20 Tahun Memikul Beban | Uang Kartal

20 Tahun Memikul Beban

by Januari 05, 2016 0 komentar

Sumber: www.ceritamu.com

Generasi yang dilahirkan atau besar di awal tahun 90-an tentu masih ingat dengan buku diary yang dimiliki sebagian anak-anak sekolah dasar saat itu, dengan kertas warna-warni bergambar Hello Kitty, Sonic, Doraemon, atau karakter kartun lain yang biasanya dijadikan alat barter sebagai penambah koleksi kertas. Hobi yang cukup mahal sebenarnya saat itu, tapi entah dari mana yang jelas uang jajan saya dan banyak anak-anak sebaya saya ternyata mampu digunakan untuk membeli sebuah buku diary dan kertas isi ulangnya. Saat itu, kita akan memaksa sebanyak mungkin teman untuk mengisi biodata mereka di buku diary kita dengan syarat kita juga menuliskan biodata pribadi kita di buku diary mereka. Yang diisi standar saja, mulai dari nama, tanggal lahir, cita-cita, hobi, tokoh idola, sampai makanan atau minuman kesukaan. Bagi yang kreatif (atau mungkin ikut-ikutan), di akhir tulisan biasanya mereka akan membubuhkan pantun atau puisi yang bunyinya sama di semua diary yang mereka isi.

Makes (makanan kesukaan-red) yang biasanya saya tuliskan adalah bakso. Itu mungkin salah satu item biodata yang masih konsisten bahkan sampai saat ini. Bandingkan dengan tokoh idola atau cita-cita yang…ah sudahlah tak perlu dibahas. Ingat bakso, ingat dengan Mas penjual bakso yang hampir tiap hari lewat di depan rumah, yang mungkin sudah berjualan jauh sebelum saya lahir. Sampai saat ini saya tidak tahu namanya, biasanya dipanggil Mas Jawa saja karena dia orang Jawa. Jawa-nya pun entah dimana saya tidak pernah tahu atau coba bertanya. Memori paling awal yang mungkin saya ingat adalah mungkin pada saat saya kelas 1 atau 2 SD dimana saat itu ibu saya menyuruh saya membeli bakso si Mas Jawa ini sambil memberi saya selembar uang lima ratus rupiah. “Beli dua mangkok ya, mamah 300, Imam 200.” Whoa, barulah saya sadar kalau inflasi sudah menyebabkan harga semangkuk bakso naik ±100 kali lipat dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun. Tapi itu tidak akan saya bahas lebih lanjut, mungkin menjadi topik di kesempatan yang akan mendatang.

Hampir dua dasawarsa kemudian, ketika pulang ke rumah bagi saya sudah menjadi sebuah kemewahan, ternyata si Mas Jawa masih berjualan bakso keliling, masih dengan gerobak pikul berwarna silver berkelir birunya. Bedanya saat ini, si Mas Jawa katanya sudah mengurangi berkeliling, dia lebih banyak mangkal di depan supermarket yang baru saja dibangun hanya selemparan batu dari rumah saya. Ini membuat saya langsung teringat perkataan salah seorang dosen saya yang berkata,”Jangan heran kalau tukang-tukang penjual makanan keliling banyak yang bukannya untung malah terus rugi, karena apa, karena mereka keliru menghitung biaya produksi mereka sehingga harga jual makanan mereka sebenarnya underpriced.”

Kebanyakan penjual makanan keliling menganggap biaya bahan baku pembuatan makanan yang mereka jual (material) sebagai satu-satunya komponen biaya produksi mereka. Padahal selain material, ada komponen lain yang lupa mereka masukkan ke dalam biaya produksi, yaitu biaya tenaga kerja (labor) dan biaya overhead. Apa mereka memikul atau mendorong gerobak tidak menggunakan tenaga? Bagaimana dengan biaya mereka makan siang atau makan malam jika kita asumsikan mereka tidak memakan jualan mereka? Bagaimana dengan biaya keamanan yang tiap hari mungkin harus mereka bayarkan kepada petugas keamanan yang kadang tidak diketahui resmi atau tidaknya? Perhitungan biaya produksi yang keliru menyebabkan perhitungan biaya per unit yang juga keliru. Biaya per unit yang keliru tentu saja menghasilkan perhitungan harga yang juga keliru. Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pelanggan seperti kita yang menikmati harga relatif lebih murah.

Saya tidak pernah tahu memang seberapa besar omzet si Mas Jawa ini, apalagi bagaimana dia mengatur penghasilannya karena banyak kasus dimana banyak perantau dari Jawa yang di kota hidupnya bersusah-susah, tetapi di kampung rumahnya paling mewah dibanding tetangga-tetangganya, tanahnya dimana-mana, kebunnya paling luas. Intinya agar mereka mampu menyejahterakan keluarga mereka meski di kota hidup sulit. Akan tetapi, secara kasat mata saja, jika selama lebih dari dua puluh tahun berjualan bakso dengan dipikul menjadi satu indikasi, sepertinya memang ada yang salah dengan cara dia menghitung biaya per mangkuk bakso jualannya.

Timbul pertanyaan, misalkan dia akhirnya menghitung biaya per mangkuk baksonya menggunakan ilmu akuntansi biaya, bukankah harga jualnya akan menjadi lebih mahal? Bukankah itu akan membuat pelanggan akhirnya enggan lagi membeli bakso darinya? 
Berjualan bakso pikul seharusnya hanya menjadi startup saja. Selama periode itu, dia sisihkan sebagian penghasilannya untuk menabung dan hasilnya digunakan untuk menyewa tempat usaha agar dia tak perlu berkeliling lagi. Dengan basis pelanggan yang telah ada, jika memang makanan yang dijual berkualitas, tentu tetap akan dicari. Di titik inilah perhitungan biaya produksi yang akurat mulai berguna untuk dipergunakan. Harga naik sedikit tidak akan menjadi masalah. Pelanggan secara psikologis akan rela membayar lebih mahal semangkuk bakso yang dijual di restoran daripada yang dijual oleh pedagang keliling. Upgrade fasilitas berbanding lurus dengan kemauan pelanggan untuk membayar.

Jika dirasa harga semangkuk bakso masih terlalu mahal dan penjual khawatir pelanggan akan kabur, maka tidak perlu menaikkan harga terlalu signifikan tapi jadikan kuantitas penjualan sebagai target. Biaya produksi secara sederhana juga dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya variabel nilainya berubah seiring dengan berubahnya volume produksi, contohnya adalah biaya bahan baku. Semakin banyak mangkuk bakso yang diproduksi tentu saja bahan baku yang dibutuhkan juga semakin banyak. Sedangkan biaya tetap, dalam range yang relevan, secara total nilainya konstan meskipun volume produksi berubah-ubah. Contohnya adalah biaya sewa ruko untuk berjualan. Banyak atau sedikit mangkuk bakso yang terjual, biaya sewa ruko yang harus dibayar ya tetap segitu. Akan tetapi, alokasi biaya tetap ke masing-masing mangkuk bakso akan terus mengecil seiring bertambahnya volume bakso yang terjual. Gunakan taktik promosi yang menarik, jaring sebanyak mungkin pelanggan dengan kualitas produk karena itu yang akan membuat pelanggan kembali lagi, bahkan biasanya dengan membawa pelanggan baru.

Sekarang saya hanya bisa membayangkan apa yang berubah jika si Mas Jawa sudah mengerti konsep akuntansi biaya sejak dulu. Akankah dia masih berjualan bakso pikul berkeliling seperti saat ini?

0 komentar :

Posting Komentar