Anggaran Berbasis Kinerja: Pendahuluan | Uang Kartal

Anggaran Berbasis Kinerja: Pendahuluan

by Januari 07, 2016 0 komentar
Anggaran berbasis kinerja (ABK) diadopsi, baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Australia, Malaysia, Singapura, negara-negara OECD, termasuk Indonesia. ABK adalah sistem penganggaran publik yang mengubah orientasi dari input dan output untuk orientasi output dan outcome. Bagaimana pemerintah dapat benar-benar bertanggung jawab jika hanya melacak rupiah yang dihabiskan  melalui sistem dan nyaris tidak menyebutkan layanan yang diberikan melalui penggunaan rupiah rakyat itu? "Penggunaan pengukuran kinerja dalam penganggaran berarti perubahan dalam operasi pemerintah, personil, struktur, dan bahkan budaya" (Wang 2000, 113).

Perubahan ini dirancang untuk mengubah bagaimana anggaran dikembangkan, siapa yang melakukan apa dalam proses anggaran, dan bagaimana anggaran mempengaruhi mereka, mengalokasikan atau menerima uang melalui itu.

Rantai Hasil, Menghubungkan Program dan Proyek untuk Keluaran Untuk Hasil

Tidak hanya berhenti pada output, ABK fokus pada sisi bawah dari result chain, dari output sampai pada apa outcome dan impact yang ditargetkan dari menghabiskan uang warga. Untuk memudahkannya, kita misalkan sebuah anggaran yang digunakan untuk bidang pendidikan. Program adalah barang/jasa yang dihasilkan oleh suatu entitas, misalnya peningkatan kualitas layanan pendidikan dasar. Input adalah sumber daya yang disiapkan dan digunakan untuk menjalankan program tersebut, bisa jadi berupa sumber daya anggaran, atau tenaga, waktu dan sebagainya. Activities adalah proses yang terjadi untuk mengubah input menjadi output, misalnya pengadaan buku pelajaran terbaru. Output adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan pada input, misalnya adalah jumlah lulusan pendidikan dasar. Outcome adalah kemanfaatan dari suatu program, outcome merupakan efek lanjutan dari output, misalnya banyaknya lulusan yang melanjutkan ke pendidikan menengah. Sedangkan impact adalah dampak jangka panjang yang tidak bisa langsung diamati, susah diukur, bahkan mungkin tidak akan terjadi. Impact ada di ranah harapan, harapan kita supaya pendidikan menjadi sarana untuk kehidupan yang lebih layak. Anggaran menjadi  kendaraan untuk mengalokasikan uang atas dasar outcome, menjalankan program untuk mewujudkan harapan kita. 

Pentingnya sebuah proses politik
Sebagaimana pentingnya demokrasi (baca: demokrasi dan makan tikus), politikus memegang peranan yang kental dalam proses ini. Jabatannya adalah wakil rakyat. tugasnya dalah mengomunikasikan harapan-harapan rakyat untuk diubah menjadi program yang outcome-nya kembali ke mereka dalam bentuk kesejahteraan. Proses eksekutif-legislatif menjadi pedoman pemerintah dalam menyusun program untuk menyejahterakan rakyatnya. Pemerintah  menentukan jenis kegiatan, input dan proyek yang diperlukan untuk mencapai outcome,  yang kemungkinan besar akan memfasilitasi pencapaian tersebut. Karena impact susah diukur, pembanding paling akhir dari anggaran suatu program adalah outcome-nya. Target kinerja diwakili dengan output dan memfasilitasi hasil pengukuran dan evaluasi menjelang akhir dari siklus anggaran. Pada akhir siklus anggaran manajer departemen akan bertanggung jawab untuk menunjukkan apakah output sesusi dengan yang diharapkan? apakah utput menghasilkan outcome?

Dengan memperkenalkan pendekatan yang berorientasi pada hasil tersebut, ABK menghubungkan uang yang masuk ke pemerintah dengan hasil pemerintah, melalui, kontrak berbasis kinerja implisit dan eksplisit berupa perjanjian. Kontrak ini menunjukkan apa yang warga negara dapat harapkan dari perwakilan politik mereka, bagaimana pemerintah akan merealisasikannya (program, proyek-proyek dan kegiatan yang didanai), berapa banyak biaya (input yang digunakan) dan entitas administrasi mana yang diharapkan mengeksekusi dana mereka. Informasi tersebut adalah dasar dari hubungan akuntabilitas baru, sebagaimana tercermin dalam dokumen anggaran, yang mempengaruhi insentif budgeters, dalam memotivasi legislator dan eksekutif untuk lebih berorientasi pada kinerja.

ABK dimaksudkan untuk mempengaruhi perilaku alokasi legislatif
Alokasi baru didasarkan pada outcome. Informasi yang objektif tentang prestasi output dan implikasi untuk hasil meningkatkan perencanaan dan pengambilan keputusan di tingkat legislatif dan eksekutif, dan memfasilitasi akuntabilitas wakil kepada rakyat yang diwakili tentang bagaimana perwakilan memutuskan untuk mengalokasikan sumber daya. Rakyat dapat mengamati bagaimana proses terhadap kemajuan outcome, siapa yang harus disalahkan atas kegagalan di sepanjang jalan (apakah masalah adalah produksi lambat atau perencanaan yang buruk) dan bagaimana perwakilan politik mengobati berbagai tingkat kinerja (reward and punishment yang dikenakan, dan apakah dana yang dialokasikan untuk meningkatkan kinerja). Singkatnya, proses ABK melibatkan komitmen 'kontrak' yang mengikat politisi untuk mengomunikasikan outcome dan tersebut sehingga disyaratkan pertanggungjawaban kinerja eksekutif dan pengambilan keputusan legislatif. 
Tuntutan akuntabilitas politik pada legislatif:
- menetapkan outcome
- memastikan urutan logis dari output menuju outcome
- mengawasi pencapaian output-outcome
- pertanggungjawaban

ABK juga dimaksudkan untuk mempengaruhi persepsi eksekutif
Bagaimana manajer melihat peran mereka dalam proses anggaran (dan bagaimana mereka mengelolanya). ABK memberikan keleluasaan yang signifikan dalam mengawasi sumber daya dengan senantiasa bertanggung jawab atas hasil suatu program dan menerapkan reward and punishment sesuai kinerja. Reward dapat berupa peningkatan otoritas anggaran, peningkatan otoritas kontrak, pengurangan pengawasan, gain sharing, atau bonus untuk para staf. Janji reward and punishment juga meluas ke potensi tanggapan masyarakat terhadap manajemen yang kuat atau lemah yang ditunjukkan secara terbuka untuk pengawasan publik. Reward and punishment dimaksudkan untuk mengikat manajer untuk janji kinerja dalam anggaran, dan untuk memberikan insentif bagi manajer untuk mengubah pendekatan mereka untuk manajemen, mengadopsi metode baru layanan menyediakan, dan menjadi lebih result oriented dan efisien. Tuntutan akuntabilitas manajerial para eksekutif:
- target setting (untuk output dan efisiensi)
- money awareness
- pertanggungjawaban

Pendahuluan yang entah kapan akan dilanjutkan.

0 komentar :

Posting Komentar