Anomali Swiss Franc: Penguatan Mata Uang Justru Jadi Ancaman | Uang Kartal

Anomali Swiss Franc: Penguatan Mata Uang Justru Jadi Ancaman

by Januari 13, 2016 0 komentar
Ilustrasi: Swiss franc


Jika Indonesia masih berjuang mati-matian menguatkan rupiah, sampai ngeden dan belum ada kemajuan signifikan, beberapa negara dengan mata uang terkuat – seperti Swiss franc dan yang belum lama ini Yuan – justru berusaha untuk melemahkan nilai mata uangnya. Penguatan mata uang yang terlalu tinggi ternyata juga tak begitu diinginkan karena dianggap bisa mengancam perekonomian – terutama sektor ekspor. Kalau tak salah dengar, alasan ini juga sempet direkrut dan ditawarkan ke publik oleh beberapa ekonom beberapa waktu lalu, ketika pemerintah frustasi dengan pelemahan terus-menerus dari mata uang Rupiah.


Kali ini, saya akan menawarkannya kembali dalam tataran yang lebih masuk akal pada negara yang memiliki tingkat perekonomian layak untuk memakai alasan tersebut. Pada negara yang level kekuatan mata uangnya mampu mengguncang pelaku ekonomi kelas kakap, bukan mata uang yang recehannya dianggap hina sebagai alat pembayaran.

//

Swiss merupakan negara yang memiliki track record stabilitas finansial yang luar biasa. Reputasi Swiss tak perlu diragukan lagi dalam hal penjagaan kerahasiaan ketat di bidang perbankan. Negara-negara dengan iklim politik yang cenderung stabil, begitu gemar menyimpan sejumlah besar uang mereka dalam bentuk Swiss franc. Hal ini mengakibatkan Swiss franc yang lebih ekonomis dan lebih kuat daripada euro.

Sebagai negara safe haven, para pelaku pasar menganggap Swiss sebagai tempat yang paling gagah untuk melindungi aset mereka. Pada tahun 2011, sewaktu kawasan eropa dicekam oleh krisis ekonomi, banyak sekali aliran dana yang masuk ke Swiss, terutama dari euro. Akibatnya, Swiss franc menjadi menguat hampir tak terkendali. Sebelum krisis terjadi, nilai tukar mata uang Swiss franc terhadap euro berada di kisaran 1,4 CHF/€ di sekitar awal tahun 2010. Masuknya dana secara masif membuat Swiss franc berhasil mencapai parity terhadap euro di pertengahan tahun 2011.

Penguatan yang terlalu tinggi justru membuat pemerintah merasa karut. Swiss dikenal sebagai pengekspor barang-barang yang memiliki nilai yang tinggi. Mata uang yang terlalu kuat justru akan memberikan resultan buruk bagi para eksportir, harga barang-barang mereka menjadi kurang kompetitif di pasaran. Alasan lain, yang membuat tidak nyaman dengan penguatan Swiss franc yang terlalu perkasa adalah masuknya dana asing yang terlampau besar, yang berpotensi memberikan efek tak sedap bagi sistem finansial Swiss.

Dalam press release mereka, SNB (Swiss National Bank – bank sentralnya Swiss) menyatakan bahwa “penilaian yang terlalu tinggi dari mata uang Swiss franc merupakan ancaman yang akut bagi perekonomian Swiss dan membawa risiko perkembangan deflasi”. Dengan alasan tersebut, SNB lantas mengumumkan untuk menetapkan batasan bagi penguatan Swiss franc terhadap euro. Tujuannya adalah untuk menghentikan overvaluation berkepanjangan Swiss franc. SNB berkomitmen tidak akan membiarkan Swiss franc menguat terlalu jauh, melampaui level CHF 1.2 terhadap euro. Intervensi yang dilakukan adalah dengan mencetak uang (dalam hal ini Swiss franc) dalam jumlah tertentu yang dipergunakan untuk membeli euro. Bahkan sebenarnya, menurut pemerintah pada tingkat CHF 1.20 per euro, Swiss franc dianggap masih terlalu tinggi dan diharapkan terus melemah dari waktu ke waktu.

Keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian pasar finansial. Dengan langkah tersebut, penguatan Swiss franc yang berlebihan bisa dicegah, sehingga dapat membentengi perekonomian Swiss dari bahaya. Kebijakan pembatasan ini berjalan selama lebih dari tiga tahun.

Francogeddon: petaka bagi pasar uang dunia

Kebijakan pembatasan penguatan nilai tukar Swiss franc terhadap euro dianggap telah berhasil menjaga kestabilan Swiss franc dan mencegah apresiasi yang terlalu tinggi yang membahayakan sektor ekspor. Masalahnya, di tengah perbedaan signifikan kebijakan moneter negara-negara mata uang utama, SNB menilai kebijakan tersebut dirasa sudah tidak relevan. Ditambah lagi, euro makin muram karena terus terdepresiasi terhadap US dollar, jika tak segera diatasi sudah pasti Swiss franc akan ikut terkena imbasnya.

Pada 15 Januari 2015, SNB memberikan woro-woro yang sangat menghentak bagi pelaku pasar di dunia dan mempengaruhi pergerakan pasar mata uang secara masif. Secara tiba-tiba SNB memutuskan untuk menghentikan kebijakan mereka untuk membatasi penguatan Swiss franc terhadap euro. Tak ayal, setelah tiga tahun memendam rasa, kebijakan ini langsung diikuti oleh penguatan yang luar biasa Swiss franc terhadap mata uang lainnya. Dalam waktu yang singkat, bahkan dalam hitungan jam, Swiss franc mengalami apresiasi yang begitu tinggi hingga 41% terhadap euro. (peristiwa ini dijuluki "Francogeddon" oleh beberapa media - red)


Segera setelah woro-woro tersebut dirilis, para pelaku  pasar – terutama yang banyak memiliki aset dalam euro – memanfaatkan kans ini untuk meloloskan diri dari wajah kelam euro. Dengan segera, mereka berbondong-bondong memborong Swiss franc. Swiss kembali dianggap menjadi tempat berlindung yang paling populer. Hal ini tentu saja menyebabkan kekacauan yang luar biasa. Banyak broker valuta yang sontak bangkrut karena merugi ratusan juta US Dollar. Yang terkena impak paling parah tentu saja adalah euro, karena kebijakan tersebut nyata-nyata membuka jalan bagi penguatan Swiss franc terhadap euro.

//

Bagaimana dengan Swiss sendiri? Tentu saja, Swiss juga ikut menelan pil pahit. Sejak awal, Swiss tak begitu suka dengan keperkasaan mata uang mereka yang berlebihan. SNB tak tinggal diam, mereka sudah menyiapkan amunisi kebijakan untuk meredam aliran deras dana masuk ke Swiss. Jika tak segera diredam, ancaman deflasi akan menggerogoti stabilitas ekonomi mereka. Lalu, kejutan apa lagi yang mereka sajikan? Kisah apa yang terjadi dalam setahun terakhir kemarin? (v0)

bagian 2 (end)

fizer0

Author

Menerjemahkan dunia yang dibangun dari paradoks, menyederhanakan ilusinya, dan melukisnya dengan kata.

0 komentar :

Posting Komentar