Demokrasi dan Makan Tikus | Uang Kartal

Demokrasi dan Makan Tikus

by Januari 18, 2016 0 komentar
(Sumber: http://voicestogether.net)
sumber: www.voicestogether.net

Untuk apa demokrasi jika rakyat makan tikus? Sebuah pertanyaan kuat dan kontroversial yang saya kutip dari mantan Perdana Menteri Malaysia,Mahathir Mohamad.


Demokrasi
Wikipedia mengatakan demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi -baik secara langsung atau melalui perwakilan- dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

Demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Saya, sebagai salah satu yang memercayai hal tersebut, yakin bahwa demokrasi adalah alat terbaik yang umat manusia miliki saat ini dalam proses memanusiakan manusia. Pengetahuan saya terbatas soal alternatif lain yang lebih baik, jadi maafkan saya. Saya pesimis jika ideologi politik lainnya seperti sosialisme atau monarki dapat menjalankan peran yang lebih baik mengenai optimalisasi harkat dan martabat manusia. Demokrasi, setidaknya, berdasarkan kerangka kerja dasarnya memberikan porsi yang sehat kepada masyarakat umum untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan pemerintah.

Memang pada akhirnya implementasilah yang relevan terhadap realitas. Konsep hanyalah impuls listrik dalam kepala para perancangnya. Butuh keringat (bahkan darah) untuk mewujudkan idealisme konsep. Namun, bukankah bagi manusia segala sesuatu diciptakan dua kali. Demokrasi yang bangsa Indonesia terjemahkan dalam Pancasila bisa saja sama brutalnya dengan sosialisme yang diterjemahkan Lenin. Namun, saya memiliki keyakinan yang cukup bahwa setidaknya negara ini ada dalam jalur yang benar. Indonesia memiliki demokrasi yang cukup sehat. Tentu saja perlu ada perbaikan di sana sini, tetapi bukankah semua yang ada di bawah matahari selalu demikian? Memahami bahwa ketidaksempurnaan merupakan keniscayaan dapat membantu, setidaknya bagi saya, untuk lebih menerima bahwa perubahan selalu memerlukan waktu sekaligus yakin bahwa selalu ada alasan untuk membantu keadaan menjadi lebih baik.

Makan Tikus
Pertama, saya ingin menekankan bahwa di sini makan tikus merupakan analogi. Bagi budaya di mana memakan hewan ternak adalah lumrah maka memakan hewan hama, karena ketidaklumrahannya, menjadi aneh. Dengan kata lain tidak pantas. Bagi budaya sebaliknya, hal yang berlawanan bisa menjadi analogi yang sama.

Makan tikus menunjukkan suatu ketidakpantasan. Bagi sebagian besar penduduk Indonesia (sebelumnya saya minta maaf kepada etnis Manado dan pihak lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu), memakan tikus untuk mengisi perut adalah pilihan yang tidak pantas. Tidak pantas karena hal tersebut dianggap tidak lumrah. Mengetahui mana yang pantas akan memudahkan untuk mengetahui mana yang tidak pantas. Dengan demikian, makan tikus mempertontonkan kurangnya akses bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan mendasar (melanjutkan hidup). Kondisi di mana ketidakadilan merupakan wajah yang eksplisit. Kondisi di mana pemerintah seharusnya mengambil peranan yang lebih besar untuk memperbaiki keadaan, dengan melibatkan masyarakatnya tentunya. Melihat ketidakadilan tanpa merasakannya akan menghasilkan pandangan yang berbeda dengan yang menjadi saksi dan korban dari ketidakadilan itu sendiri.

Akses yang saya maksud adalah akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Setiap orang seharusnya memiliki akses yang sama untuk sumber-sumber dimaksud. Kesempatan yang sama harus dijamin, baik dengan regulasi dan penegakannya. Setiap orang seharusnya memiliki akses yang sama terhadap fasilitas mendasar dalam peradaban modern: energi dan informasi. Setiap orang harus memiliki akses yang mudah terhadap pelayanan publik mendasar: pendidikan dasar yang baik, pelayanan kesehatan yang memadai, dan jaminan sosial. Mengejawantahkannya dalam sesuatu yang riil memang bukan tugas yang mudah dan memerlukan waktu.

Harus ada upaya untuk menjamin masyarakat memiliki akses yang sama untuk memperoleh kebutuhan dasarnya. Namun bukan hanya akses, masyarakat juga perlu dibantu untuk memahami akses yang dimilikinya. Konstitusi bangsa ini mengamanatkan pencerdasan kehidupan sebagai salah satu tujuan bernegara. Kecerdasanlah yang akan membantu masyarakat untuk menggunakan akses yang mereka miliki bagi pencapaian kebahagiannya masing-masing (dan pada akhirnya negara).

dangmargoar

Author

0 komentar :

Posting Komentar