Jangan Buang Recehanmu di Jalan | Uang Kartal

Jangan Buang Recehanmu di Jalan

by Januari 22, 2016 1 komentar
"Bila Sally mencariku
Biarkan dia terbang jauh
Dalam hatinya hanya satu
Jauh hatinya hanya aku

Sally kau selalu sendiri
Sampai kapan pun sendiri
Hingga kau lelah menanti
Hingga kau lelah menangis"

Potongan lirik tembang lawas milik Peter Pan di atas beradu merdu dengan suara hujan di ruang dengar saya sore tadi. Ingatan kemudian berjalan mundur sekian tahun lalu ketika saya bertemu dengannya. Bibir wanita paruh baya itu tersenyum melihat dua bocah kecil tertawa berlari-lari kecil menghampiri dirinya. Tidak, mereka bukan sedang bermain di sebuah taman kota yang asri, mereka adalah pengemis yang meminta-minta di perempatan jalan dekat kampus paling terkenal di Jogja. Sally begitu dia memperkenalkan diri menjadi objek observasi kecil saya sebagai bagian dari tugas kuliah pada masa itu. Teman-teman kuliah saya sempat tertawa ketika saya sebut namanya pada presentasi hasil observasi karena namanya kebetulan sama dengan wanita di lirik lagu band papan atas masa itu. Sesungguhnya tak ada yang bisa ditertawakan dari hidup Sally yang getir. 

Sally, ibu dengan dua anak usia sekolah dan satu orang bayinya setiap hari berjuang melawan panas terik dan polusi berdiri di perempatan jalan menunggu lampu pengatur lalu lintas berubah menjadi merah untuk kemudian dia dan tiga orang 'pasukannya' meminta belas kasihan pengendara yang berhenti. Berjuang di jalanan jelas bukan pilihannya, tapi katanya tidak ada alternatif lain. Menurutnya, hasil seharian di jalanan menanti recehan dari orang-orang cukup untuk menghidupi dia dan ketiga orang anaknya. Ketika saya tanya apabila ada modal apa yang ingin dia lakukan, dengan suara lirih dia menjawab ingin membuka warung.

Cerita lain datang anak jalanan yang sering saya temui dalam berbagai kegiatan sosial di ibu kota yang rata-rata mengatakan bahwa mereka betah berada di jalan. Ketika saya telusuri lebih lanjut, dengan mengamen, atau meminta-minta di keramaian Jakarta, sehari 'omset' mereka tak kurang dari seratus ribu rupiah, bahkan lebih di hari-hari tertentu, hampir setara dengan pegawai lulusan diploma yang dibayar setara UMR. Dengan hanya bermodalkan kaleng bekas atau kecrekan, mereka menjadi mesin uang bagi industri jalanan. Saya sebut industri jalanan karena rupiah yang berputar sangatlah besar. Mari kita sedikit berhitung, pada tahun 2013, jumlah anak jalanan di Jakarta menurut Dinas Sosial sebanyak 7.300, itu artinya dengan rata-rata 'omset' Rp 100.000 per anak, total uang yang beredar adalah Rp730.000.000 setiap harinya, atau Rp 266.450.000.000 per tahun. 

Sayangnya, penghasilan mereka yang lumayan besar tidak kemudian memberikan efek positif bagi anak jalanan usia sekolah ini. Sebagian dari kita mungkin berpikir uang itu digunakan untuk membayar keperluan sekolah atau makan sehari-hari, padahal kenyataannya seringkali tidak begitu. Dari banyak penelitian yang dilakukan, uang yang diperoleh anak jalanan ini sebagian besar digunakan tidak untuk hal-hal yang positif. Jajan, menyewa permainan eloktronik, setor ke orang tua atau senior/preman sebagai pelindung mereka di jalanan, bahkan membeli minuman keras atau narkoba menjadi hal yang lumrah di kalangan mereka. Jadi, mereka akan tetap saja di jalan karena merasa mudah mencari uang dan kesenangan tanpa berpikir untuk sekolah.

Sally dan anak jalanan di atas merasa betah berada di jalan karena kita setiap hari masih memberi 'umpan' meskipun hanya dengan recehan. Bayangkan berapa banyak rumah singgah, sekolah atau klinik kesehatan bisa kita bangun dengan uang sebesar itu apabila kita mulai menyimpan uang recehan daripada sekadar dibuang di jalanan. Sally dan anak jalanan menunggu kita untuk membuat mereka tidak nyaman berada di jalanan, untuk berhenti memberi uang recehan. Berhenti memberi uang recehan bukan berarti berhenti peduli, kita bisa menyalurkan uang recehan ke lembaga-lembaga sosial (sahabat anak, save street child misalnya) atau bisa menyimpan makanan ringan juga sekotak susu di ransel sebagai pengganti uang. Semoga nasib Sally, gelandangan, pengemis dan anak jalanan tidak seperti penggalan lirik lagu Peter Pan itu, jangan biarkan mereka sendiri, mari datangi dengan cara yang benar. Jangan buang recehanmu di jalan. Tabik!

1 komentar :

  1. jalanan yang memberikan zona nyaman, malas beranjak. Kantor juga demikian, gajian tiap bulan, malas bekerja.

    BalasHapus