Outlook Pasar Modal Tahun 2016 by Jhon Veter | Uang Kartal

Outlook Pasar Modal Tahun 2016 by Jhon Veter

by Januari 03, 2016 0 komentar
Dalam teori investasi sederhana dikemukakan sebuah dalil bahwa di masa kenaikan suku bunga biasanya likuiditas cenderung lebih ketat dibandingkan dengan di masa penurunan suku bunga. Hal tersebut memang benar hanya apabila sumber dari uang hanya berasal dari bank sentral sebagaimana yang terjadi di era abad ke 16 lalu, periode ketika pertama kali bank sentral diterapkan oleh sebuah negara. Namun, kini kondisi yang ada sangat-sangat berbeda. Uang dapat timbul dan muncul bukan saja dari bank sentral, tetapi dari teknologi, kreativitas, dan bank umum lainnya dalam bentuk uang giral. Uang giral ini berputar lebih cepat dan lebih kencang daripada uang kartal dalam bentuk kertas maupun koin yang sehari-hari hadir di dompet kita sekalian. Dengan fakta terkini seperti ulasan di atas maka perlu menjadi pemikiran kita benarkan periode kenaikan suku bunga 100% adalah masa pengetatan? Sebagaimana kebiasaan kami di setiap akhir tahun maka dalam catatan mingguan kami terakhir di tahun 2015 ini kami juga akan memberikan sekilas outlook kami untuk tahun 2016 dikaitkan dengan potensi dan resiko.

KENAIKAN SUKU BUNGA FED

Energi ketakutan banyak orang di tahun 2015 muncul terutama akibat tindakan siklis bernama kenaikan suku bunga FED RATE. Amerika Sendiri secara porsi ekonomi dunia memiliki ukuran ekonomi yang terus mengecil dibandingkan dengan 10 bahkan 20 tahun lalu. Dibandingkan dengan satu abad lalu, ekonomi Amerika Serikat telah menyusut sebesar 50% dengan hanya memiliki porsi sebesar 20% dari besaran ekonomi global. Adapun pangsa pasar Amerika Serikat terutama direbut oleh Jepang, Uni Eropa, dan baru-baru ini oleh Tiongkok dengan ukuran ekonomi kedua terbesar setelah Amerika Serikat. Melihat pada fakta porsi ukuran dari ekonomi Amerika, maka seharusnya isu kenaikan FED RATE di tahun 2015 kemarin tidaklah sedramatis yang diperkirakan banyak orang. Bahkan, karena kejadian ini telah berlalu maka kita bisa melihat efek dari isu kenaikan FED RATE kali ini tidak membuat DJIA turun lebih dari 30% sebagaimana kondisi yang pernah terjadi di era tahun 1980 an yang sempat jatuh hingga 40% an.

Hal kedua yang menjadi perhatian kami kali ini adalah tindakan di luar kebiasaan baru yang muncul sebagai akibat periode Quantitative Easing selama 10 tahun terakhir di Amerika Serikat. Dalam kondisi normal, sebagaimana disebutkan di atas, periode kenaikan suku bunga memang menjadi sebuah masa dimana uang banyak ditarik ke dalam sistem keuangan perbankan untuk mengendalikan inflasi (kenaikan harga) maupun untuk mengurangi daya beli masyarakat dengan memaksa orang untuk menabung dan mengurangi berhutang. Namun demikian, untuk Amerika Serikat kali ini kondisinya sangat jauh … jauh … dan jauh berbeda dari teori ekonomi konvensional. Kali ini pada neraca keuangan Bank Sentral Amerika Serikat terdapat sekitar USD 4 Trilyun surat hutang bertenor jangka panjang. Bandingkan kondisi tersebut pada periode kenaikan suku bunga sebelumnya yang hanya memiliki kurang dari USD 500 Milyar saja atau kenaikan hampir 10 kali lipat.

Apakah konsekuensi paling logis dari fakta ini? Kami melihatnya ini adalah ekstensi periode Quantitative Easing atau perpanjangan ala Amerika Serikat. Memang jumlahnya tidak semasif QE sebelumnya. Namun demikian, jumlah ini akan terus bertambah hingga puncaknya mungkin di tahun 2017 sebelum mulai berkurang di tahun 2018 karena surat utang yang dimiliki oleh Bank Sentral Amarika Serikat setidaknya bertenor 8 sampai dengan 10 tahun terhitung sejak periode QE diberlakukan di tahun 2009 yang lalu.

Dari mana munculnya QE Extended tersebut? Tidak lain adalah dari pembayaran bunga yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat kepada pemegang obligasi yang tidak lain adalah Bank Sentral FED. Perbedaan dari QE kali ini hanyalah pada siapa pemberi uang dari semula adalah FED dalam bentuk pembelian surat utang pemerintah US dan kali ini adalah pemerintah yang harus mencetak uang lebih banyak seiring kenaikan suku bunga FED RATE. Baik yang pertama maupun yang kedua sama-sama berimplikasi pada kenaikan jumlah uang sehingga ketakutan banyak orang untuk terjadinya krisis likuiditas mata uang USD sama sekali tidak beralasan.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa besarannya? Dalam sebuah tulisan di Yahoo disebutkan angka sebesar USD 12 Milyar tambahan ke pasar keuangan dunia di tahun 2016 seiring kenaikan suku bunga FED RATE sebesar 25 basis poin kemarin. Nilai ini akan cenderung bertambah hingga sebesar USD 40 milyar apabila FED menaikkan suku bunga acuan lebih tinggi lagi di tahun 2016 yang banyak pihak diperkirakan setidaknya hingga 1% lagi ke level 1,5%. Jumlah ini hanya memperhitungkan jumlah surat utang negara yang dipegang oleh FED. Sementara untuk surat utang negara yang dipegang oleh para investor institusi maupun perorangan bahkan negara tentu akan lebih besar. Ambil contoh dengan Tiongkok sebagai pemegang obligasi pemerintah Amerika terbesar denggan jumlah hampir USD 4 Trilyun. Tentu kenaikan bunga akan menguntungkan ekonomi Tiongkok karena itu berarti ada lebih banyak USD masuk dibandingkan sebelumnya.

Apakah implikasi dari QE Extended ini? Sama seperti periode QE yang lalu dengan pertambahan USD itu berati nilai kurs dari USD dalam jangka menengah panjang atau setidaknya siklus ini akan cenderung melemah, tetapi tidak sebesar periode QE satu dasawarsa lalu. Pelemahan USD akan tertahan oleh besaran kenaikan suku bunga FED dan juga jumlah likuditas dari pembayaran bunga tidak sebesar program QE 3 yang mencapai puncaknya di level USD 80 Milyar setiap bulannya.

PELONGGARAN INDONESIA

Hal yang berbeda namun berimplikasi sama terhadap likuiditas juga sedang terjadi pada Indonesia. Perbedaan utama terletak pada nilai suku bunga dengan Indonesia berada pada posisi pelonggaran likuiditas dengan cara menurunkan suku bunga sementara Amerika Serikat dengan cara menaikkan suku bunga. Dua cara yang berbeda ini secara teori seharusnya menimbulkan kondisi yang juga berbeda. Akan tetapi, karena ketidaknormalan yang sebelumnya terjadi di masa QE maka tidak lah mengherankan apabila kenaikan suku bunga di negeri paman Sam cenderung menjadi sebuah pelonggaran likuiditas.

Untuk Indonesia, pelonggaran likuiditas sudah dimulai di awal kuartal ketiga dengan dilonggarkannya nilai LTV namun belum menyentuh besaran suku bunga yang masih bertengger di level 7,5%. Adapun berdasarkan guidance dari gubernur bank sentral maka didapatkan sekilas pandang dengan penurunan suku bunga di Februari 2016 mendatang, sehingga diharapkan akan menjadi katalis bagi perekonomian Indonesia secara umum dan demikian juga pasar saham secara khusus.

Berdasarkan analisa tersebut maka kami membuat perkiraan potensi kenaikan IHSG di tahun 2016 di level 5,970 atau 6,000 dengan mempertimbangkan relatif melemahnya USD, pertumbuhan GDP mencapai 5,5%, dan suku bunga BI Rate sebesar 6,25%. Kami menilai tekanan inflasi di tahun 2016 masih akan kecil seiring dengan penurunan harga minyak dunia dan harga komoditas utama dunia. Risiko yang muncul dari perekonomian justru datang dari terlalu kecilnya angka inflasi, sehingga ekonomi justru deflasi yang dapat mengantarkan IHSG pada resiko di level 4,200. Kami menilai hal tersebut adalah fakta yang harus diwaspadai.

Demikian beberapa ulasan di akhir tahun ini. Semoga memberikan gambaran dan selamat bertransaksi.
( 28 Desember 2015 )

Salam
Jhon Veter

0 komentar :

Posting Komentar