Perjalanan Dinas: Fenomena Si Pencari Pundi | Uang Kartal

Perjalanan Dinas: Fenomena Si Pencari Pundi

by Januari 29, 2016 4 komentar

Sumber: www.tipskarir.com

Perjalanan dinas (disingkat perjadin) atau yang biasa disebut Dinas Luar secara sederhana adalah sebuah kegiatan yang dilaksanakan di luar kantor dalam rangka dinas. Kata dinas disini memiliki arti tugas atau berhubungan dengan kantor. Jadi bisa dikatakan bahwa ada kegiatan atau keperluan yang dilaksanakan di luar kantor yang berhubungan dengan kegiatan kantor. Apabila menilik aturan yang berlaku sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012, pengertiannya adalah sebagai berikut:

Perjalanan Dinas Jabatan adalah Perjalanan Dinas melewati batas kota dan/atau dalam kota dari tempat kedudukan ke tempat yang dituju, melaksanakan tugas, dan kembali ke tempat kedudukan semula di dalam negeri.
Atau untuk lebih mudah mengetahui apa itu perjadin, mungkin sebagian besar orang akan mudah mengalihbahasakannya menjadi kata ngelencer karena kata ini sangat sering didengar oleh masyarakat terutama terkait berita para wakil kita yang terhormat.   

Berbicara mengenai perjadin, ada fenomena yang cukup menarik untuk dibahas. yaitu mengenai "masih banyaknya PNS yang menganggap perjalanan dinas sebagai tambahan penghasilan". Apa kaitannya perjalanan dinas dengan tambahan penghasilan?. Sesuai PMK Nomor 113, dalam melaksanakan perjadin akan timbul biaya-biaya yang berhubungan dengan perjadin atau lebih mudah disebut sebagai biaya akomodasi. Komponen biaya-biaya tersebut antara lain:
1. uang harian yang meliputi uang makan, uang saku, dan transport lokal; 
2. biaya transport;
3. biaya penginapan;
4. uang representasi; 
5. sewa kendaraan dalam kota; dan/atau;
6. biaya menjemput/mengantar jenazah.

Bila dikaitkan dengan penghasilan, maka biaya pada poin satu lah yang biasanya menjadi iming-iming bagi pegawai dalam melaksanakan perjadin karena biaya pada poin satu merupakan biaya yang nantinya akan dibayarkan kepada si pelaksana perjadin. Adapun besaran rupiah yang didapat tergantung dari lamanya perjalanan dinas dan tujuan perjalanan dinas. Maka dapat dibayangkan apabila seorang PNS melaksanakan perjadin dengan frekuensi yang tinggi, maka bisa dipastikan PNS tersebut akan mengantongi uang perjadin yang banyak (asumsi perjadin umum keluar kota).

Pegawai yang suka mengais penghasilan tambahan dari perjadin biasanya ada di setiap kantor. Jumlahnya berbeda-beda entah satu, dua orang atau bahkan lebih. Pastinya mereka ini terkenal di kalangan rekan-rekannya. Dari beberapa sumber yang saya peroleh, banyak diantara mereka (si pencari pundi) yang cenderung tidak disukai oleh rekan-rekannya. Mereka mengatakan bahwa "si pencari pundi" ini cenderung bersikap "kurang santai" apabila berkaitan dengan uang. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat uang juga merupakan salah satu faktor yang bisa mengubah sikap seseorang secara drastis.

Bila ditelusuri lebih dalam berdasarkan hasil pengamatan saya, si pencari pundi memiliki ciri sikap yang kurang lebih sama di beberapa kantor. Berikut beberapa sikap si pencari pundi yang dapat saya rangkum: 

Pertama, si pencari pundi cenderung berusaha mencari kegiatan agar bisa melakukan perjadinMereka akan mengusulkan untuk melaksanakan perjadin atas kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan tanpa melaksanakan perjadin. Sebagai contoh, pegawai X mengusulkan untuk melaksanakan perjalanan dinas guna melaporkan sebuah dokumen ke kantor pusat, padahal dokumen tersebut bersifat tidak terlalu penting dan mendesak. Seyogyanya, dokumen tersebut bisa dikirimkan melalui jasa pengiriman sehingga berdampak pada penghematan belanja negara.

Kedua, si pencari pundi cenderung akan mengeluarkan pengeluaran yang minim pada saat melaksanakan perjadin. Kembali ke topik awal, karena tujuannya adalah sebagai tambahan penghasilan maka kemungkinan besar si pencari pundi akan menghemat biaya pengeluaran selama perjadin agar bisa mengantongi uang lebih banyak. Bentuk minimalisasi pengeluaran yang umum dilakukan antara lain: (a) menghemat biaya makan; (b) menghemat biaya tambahan lainnya, contoh: membeli oleh-oleh, atau bahkan tidak membeli sama sekali; dan (c) menghemat biaya penginapan. Dari ketiga poin di atas, poin (c) lah yang perlu dipandang serius. Pada kasus tertentu, terkadang dalam melaksanakan perjadin, pegawai pelaksana perjadin tidak dibekali dengan reservasi penginapan. Alhasil pegawai tersebut harus mencari penginapan sendiri. Apabila pegawai tersebut memiliki pemikiran "kreatif" yang dilandasi motif penghasilan tambahan, maka praktek mark up struk pembayaran penginapan akan terjadi. Jelas sudah bahwa itu adalah salah satu tindakan korupsi.

Ketiga, si pencari pundi cenderung bersikap iri kepada rekannya yang melaksanakan perjadin. Sikap inilah yang sering menyebabkan si pencari pundi kurang disukai oleh rekan-rekannya di kantor. Betapa tidak, apabila ada rekannya yang sedang atau mendapat tugas perjadin, mereka cenderung bersikap nyinyir dan bahkan sampai ada yang menyempatkan waktu untuk menghitung jumlah perjadin yang dilaksanakan oleh setiap pegawai dan membandingkannya satu sama lain (tagar tepok jidat). Akan tetapi apabila mereka mendapat perjadin dengan frekuensi yang cukup banyak, mereka sangat senang dan diam seribu bahasa. Pelajaran yang bisa diambil dari poin ketiga adalah bahwa pemberian tugas perjadin sewajarnya diberikan kepada pegawai yang berkapasitas/berkepentingan. Apabila misalkan pegawai Y mendapatkan tugas perjadin yang banyak, selama itu masih dalam ranah pekerjaannya, sesungguhnya itu tidak patut dipersoalkan. Merupakan suatu hal yang aneh dan lucu apabila ada rekannya yang iri dan nyinyir kepadanya. 

Keempat, si pencari pundi, karena didasari motif uang, sebagian ada yang setelah melaksanakan tugas perjadin kurang peduli atau tidak peduli terhadap pertanggungjawaban atau follow up atas kegiatan perjadin yang dilakukan setelah mereka mengantongi haknya. Dari sikap inilah timbul stigma "yang DL siapa, yang tanggung jawab siapa". Hal ini juga merupakan salah satu penyebab si pencari pundi kurang disukai oleh rekan-rekannya. Seyogyanya, harus seimbang antara hak (memperoleh uang perjadin) dengan kewajibannya (pertanggungjawaban kegiatan sampai tuntas).

Akhir kata, keempat poin sikap diatas adalah murni pendapat saya berdasarkan pengamatan yang saya lakukan. Keempat contoh sikap diatas, menurut saya kurang patut untuk ditiru. Namun merupakan hak setiap orang untuk menentukan sikap masing-masing. Sesuai dengan pepatah modern don't hate me cuz you ain't me, bukan merupakan kewenangan kita untuk menghakimi. Toh, semua sudah dewasa, dibekali akal pikiran dan memiliki hati nurani masing-masing. Tinggal digunakan atau tidak? :D (dkb) 


Referensi:
[1]  Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012
[2]  http://www.wikiapbn.org/perjalanan-dinas/

4 komentar :

  1. Perjadin, sepertinya juga digunakan untuk menyerap anggaran di akhir tahun. Yg Pusat Ke wilayah kerjanya yang di daerah, yg daerah ke wilayah kerjanya yang lebih "daerah", atau yang daerah ke pusat... who knows....

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju #eh. Semua tergantung pandangan masing-masing.. hehe

      Hapus
  2. beberapa kasus, uang perjadin dipotong untuk kegiatan informal kantor yang akhirnya mengurangi oundi si pencari. . . . siapa untung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohon ijin,
      Saya juga pernah mendengar kasus tersebut dan ada beberapa tanggapan, ada yang menerima dan bersikap santai, ada yang bersikap agak sebel dan menggerutu dibelakang

      memang yang dipotong adalah hak si pencari pundi dan apabila berpikir secara umum harusnya itu tidak bisa diganggu gugat.

      kembali lagi ke topik awal, kebijakan tersebut biasanya adalah kebijakan kantor. Apabila memang kurang sreg, ya monggo dibicarakan sampai menemukan titik temu yang membuat nyaman masing-masing.

      dilihat dari segi untung tidaknya, kembali lagi ke masing-masing pribadi.
      apabila melihat untung dari segi pengalaman, ada yang berpikiran tidak masalah dipotong asalkan bisa jalan-jalan cuci mata sambil refresh pikiran.

      apabila melihat untung dari segi materi/uang, mungkin si pencari pundi berpikir "untuk apa capek-capek DL kalau ujung2 nya dapatnya cuma segini"

      kata kunci: cukup :D
      monggo dipilih

      Hapus