Toleransi itu Ibarat Iman | Uang Kartal

Toleransi itu Ibarat Iman

by Januari 29, 2016 1 komentar
Sumber: www.ashtonstewart.net
Apakah ada dari Anda yang pernah menonton “The Last Man on Earth”? Sebuah serial televisi ciptaan FOX yang bercerita bagaimana seorang Phil Miller (yang diperankan oleh Will Forte) menjadi satu-satunya manusia yang hidup setelah sebuah virus memusnahkan seluruh makhluk hidup di bumi kecuali dirinya. Beberapa pekan pertama dia hidup sendiri di bumi, hal tersebut seperti sebuah anugerah bagi dirinya. Dia bisa mengambil apa saja yang dia inginkan, bisa memiliki apa saja yang dia inginkan, bisa masuk ke rumah siapa saja dan menjadikannya rumahnya sendiri. Tapi hal itu ternyata tak bertahan lama, akhirnya dia sadari bahwa dia sangat membutuhkan seorang teman, kehadiran sosok manusia lain yang mampu menjadi peluruh kesepiannya. Sebagai makhluk monodualis, manusia secara fisiologis tidak memiliki hubungan organik dengan sesamanya, tetapi secara psikis, manusia membutuhkan kehadiran orang lain, butuh interaksi. Kombinasi antar kedua elemen dalam interaksi antar manusia kadang menimbulkan ikatan kadang menimbulkan friksi. Ketika sudah terjadi friksi, obatnya adalah sanksi, sementara untuk mencegahnya dibutuhkan toleransi.

Beberapa minggu yang lalu saya dan teman-teman satu kost terkurung di dalam rumah kost. Kami tidak bisa bebas keluar kost, pun bagi teman yang sedang berada di luar kost, agaknya akan sedikit sulit untuk masuk kost. Alasannya? Tetangga depan rumah kost saat itu sedang melaksanakan pesta pernikahan anaknya. Jalan masuk sepanjang kost kami dialihfungsikan menjadi tempat duduk para tamu undangan, bahkan halaman parkir kost pun tak luput berubah fungsi menjadi kawasan duduk tamu. Alhasil, kami cuma duduk bengong menghabiskan waktu di kost, teronggok kelaparan dan kehausan karena lupa menyetok makanan dan minuman.

Jalan menuju kost kami, meski sempit merupakan barang publik. Barang publik punya karakteristik 1) nonrivalry, yang artinya siapa saja bisa menggunakannya tanpa mengurangi manfaat yang diterima oleh orang lain yang juga menikmatinya, dan 2) nonexcludability, yang berarti bahwa semua orang berhak menikmati barang tersebut tanpa perlu memberikan imbalan dalam bentuk apapun. Meski barang publik secara umum diasosiasikan dengan dengan kedua sifat di atas, tetapi pada kenyataannya sangat sulit menemukan barang publik yang secara absolut memiliki kedua karakter di atas. Kebanyakan sifat barang berada di antara batas keduanya, dengan kata lain memiliki derajat karakteristik yang berbeda satu sama lain. Lawan dari barang publik adalah barang privat yang memiliki sifat sebaliknya, yaitu rivalry dan excludability. Sehelai celana dalam yang sedang kita pakai tidak bisa dipakai oleh orang lain dalam waktu bersamaan dan untuk mendapatkannya kita tentu harus mengeluarkan biaya.

Menyediakan atau menggunakan barang publik atau barang privat berpotensi menghasilkan eksternalitas. Eksternalitas muncul ketika transaksi dari satu atau lebih pihak yang terlibat ternyata menimbulkan manfaat atau justru biaya terhadap pihak yang sama sekali tidak terlibat dalam transaksi tersebut. Ketika transaksi tersebut menimbulkan manfaat bagi pihak yang tak terlibat, itu disebut sebagai eksternalitas positif. Sebaliknya, jika transaksi tersebut menimbulkan biaya bagi pihak yang tidak terlibat, berarti telah terjadi eksternalitas negatif. Gang dan parkiran kost kami yang disulap menjadi tempat duduk tamu membuat kami seharian tidak bisa keluar kost. Selain itu, pesta hajatan tak pernah lepas dari hiburan organ tunggal. Tak terkecuali pesta pernikahan yang satu ini, yang sudah barang tentu menimbulkan polusi suara di hari yang seharusnya menjadi hari dimana kami dapat beristirahat setelah sepekan beraktivitas. Belum lagi sampah-sampah yang tersisa seselesainya acara tersebut. Motor-motor kami yang kebetulan terparkir di luar jadi kursi dadakan bagi para tamu dan tak dielakkan jadi tempat sampah dadakan juga. Saya dan teman-teman berhak mengatakan bahwa kami telah terkena eksternalitas negatif dari acara hajatan tetangga kost hari ini.

Tidak. Saya tidak segila itu sampai mengutuk tetangga karena berpesta menikahkan anaknya. Di awal saya bilang, friksi bisa dicegah dengan toleransi. Friksi di sini salah satunya ditimbulkan dari eksternalitas negatif. Yang mengemuka adalah sejauh apa toleransi seseorang bisa direnggangkan untuk meredam friksi. Toleransi sendiri komponennya banyak sekali. Kalau boleh saya bilang, toleransi itu ibarat iman, kadarnya naik turun. Dua tetangga saya di kampung yang dulu sangat akur, karena kesalahpahaman kecil di momen yang tidak tepat, akhirnya cekcok berkepanjangan sampai-sampai salah satunya pindah rumah.

Di zaman yang serba cepat dan serba terbuka, kadar toleransi seseorang gampang dimainkan dan dijadikan senjata ampuh menyelesaikan persoalan, menambah ruwet permasalahan, atau menimbulkan kegalatan baru. Satu moment di Path, dan boom Florence Sihombing dideportasi dari Yogyakarta. Satu status di Facebook, Sarry Panggabean harus menerima kenyataan menjadi bulan-bulanan ribuan orang Pontianak. Memainkan kadar toleransi khalayak saat ini semudah menambah atau mengurangi volume televisi menggunakan remote. Pun, toleransi masyarakat seringkali disalahtujukan pada hal-hal yang tidak matter. Di saat friksi dibutuhkan untuk meng-address masalah, justru kebanyakan dari kita malah mentolerirnya. Toleransi yang dalam konteks ini lebih tepat disebut sebagai ketidakpedulian. Walhasil, banyak yang akhirnya pilih-pilih mana yang keren untuk ditolerir dan mana yang juga keren untuk dijadikan konflik, yang penting cukup menarik untuk di-share di Facebook.

Sampai hampir pukul 10 malam, si organ tunggal belum juga usai. Andai yang diputar lagu-lagu Top 40 atau K-Pop, mungkin toleransi saya tak akan cepat tergerogoti.

1 komentar :

  1. toleran pada Tuhan12 Februari 2016 19.12

    tulisan yang cukup menarik untuk di-share di Facebook

    BalasHapus