Anomali Swiss Franc (2): Suku Bunga Negatif dan Derasnya Arus Uang | Uang Kartal

Anomali Swiss Franc (2): Suku Bunga Negatif dan Derasnya Arus Uang

by Februari 08, 2016 0 komentar
Jika Anda membentuk deposito di bank, apa yang Anda ingin dapatkan? Ya, kita mungkin akan mengharapkan pengembalian dalam bentuk bunga (bunga yang dimaksud di sini bukanlah bunga yang bukan nama sebenarnya – red). Tingkat pengembalian yang didapatkan akan sangat bergantung pada besarnya simpanan dan tingkat suku bunga. Semakin besar tingkat suku bunga, semakin besar pengembalian yang kita dapatkan. Logika awamnya, kita akan lebih senang menyimpan uang jika tingkat suku bunganya lebih besar, bukankah begitu?

Lalu apa jadinya jika tingkat suku bunganya negatif? – yang artinya kita justru harus membayar sejumlah uang untuk nilai deposito kita? – Masihkah kita mau menyimpan uang kita?

//

Ingat pembahasan kita sebelumnya? Swiss tak begitu berselera dengan penguatan mata uangnya yang berlebihan, sehingga ia harus melakukan capping untuk membatasi penguatan Swiss Franc dari pertengahan 2011 sampai awal 2015 – ketika kebijakan itu dicabut. Sebelum kebijakan tersebut dicabut, sebenarnya SNB sudah melakukan ancang-ancang untuk mengatasi derasnya arus uang yang mengalir. Pada Desember 2014, SNB memperkenalkan tingkat suku bunga negatif, yang diberlakukan sebesar -0,25%. Namun, nyatanya reputasi Swiss sebagai negara safe haven terus melegenda, membuat franc masih menjadi tujuan utama para investor menyimpan uang.

Itulah anomali yang terjadi. Bahkan ketika keran penguatan Swiss dibuka, SNB memberikan pengumuman ekstra dengan menurunkan lagi suku bunganya menjadi -0,75%. Hal itu tak mengurangi minat para investor untuk tetap menuangkan dana mereka dalam wadah Swiss Franc – barangkali karena mereka kurang teliti membaca tanda minus, entahlah. Meskipun, sejatinya tidak lantas nasabah bank-bank umum itu ikut menanggungnya secara langsung. Bank-bank umum biasanya tetap tidak akan menerapkan suku bunga negatif pada simpanan nasabah karena khawatir kehilangan klien dan memilih menanggung sendiri pembayaran ke bank sentral.


Semenjak memberlakukan kebijakan pembatasan nilai mata uang mereka terhadap Euro, Swiss telah mengakuisisi segepok Euro untuk mengekang kenaikan Franc melawan mata uang umum lainnya. Akibatnya, sejak itu cadangan devisa Swiss menjadi melonjak begitu tinggi. Sejak pertengahan tahun 2012, cadangan devisa Swiss sudah menembus angka di atas CHF 400 miliar, padahal di tahun-tahun sebelumnya hanya berada di kisaran CHF 200-300 miliar. Angka ini tidak berhenti dan terus naik mendekati CHF 600 miliar pada penghujung tahun 2015.

Besarnya nilai cadangan devisa suatu negara sebenarnya sangat baik karena menunjukkan kemampuan pembayaran utang dan transaksi internasional yang sangat kuat. Namun, di sisi lain cadangan devisa yang terlampau tinggi akan menimbulkan inefisiensi. Biaya yang dibutuhkan untuk menyimpan cadangan devisa tersebut diperkirakan akan semakin membengkak sejalan dengan kenaikan terus menerus cadangan devisa mereka.

Pemangkasan suku bunga lebih jauh sudah bukan pilihan bijak. Suku bunga deposit SNB pada -0.75% saat ini sudah jauh lebih rendah dibanding suku bunga deposit ECB yang -0.2%. Namun, tetap saja dana-dana masih terus mengalir dari Euro ke Swiss. Secara teoritis, pemangkasan suku bunga bisa melemahkan mata uang, tetapi sampai saat ini terlihat bahwa status Swiss sebagai safe haven tak berubah meski suku bunga sudah super rendah, bahkan terendah di dunia saat ini. Justru, pemangkasan suku bunga lagi dikhawatirkan bisa menyiksa sektor perbankan dan finansial Swiss yang menjadi salah satu sektor ekonomi andalannya.

//



Sudah 1 tahun semenjak diberlakukan kebijakan suku bunga negatif, tapi Swiss tak berubah, daya tariknya masih begitu memikat. Entah sampai kapan Swiss akan tetap menampung dana yang terus mengalir ke arahnya.

Swiss tak berkutik, mereka cuma bisa menunggu hujan reda. Padahal di sisi lain, ancaman deflasi terus menggerus. Tingkat inflasi di Swiss mencapai -1,4% pada Agustus 2015, yang merupakan rekor terendah yang pernah dialami Swiss. Sampai akhir Desember 2015 pun inflasi masih berada pada level -1,3%. Harga-harga terus merosot dan itu bukan merupakan siklus ekonomi yang normal. Risiko deflasi semakin membayangi Swiss dan diperkirakan akan berlanjut jika tidak ada penanganan lebih lanjut. (v0)

fizer0

Author

Menerjemahkan dunia yang dibangun dari paradoks, menyederhanakan ilusinya, dan melukisnya dengan kata.

0 komentar :

Posting Komentar