Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian satu) | Uang Kartal

Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian satu)

by Februari 01, 2016 1 komentar
Tanggal 14 Januari 2016 lalu Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps dari sebelumnya 7,5% menjadi 7,25%. Apa itu BI Rate? Lalu apa hubungannya dengan inflasi serta pengaruhnya terhadap IHSG? Penulis meyakini bahwa sebagai investor, ketiga hal tersebut selalu menjadi perhatian utama sehingga pemahaman akan hal tersebut menjadi hal yang penting untuk diketahui.

Dalam  melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter. Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi ke depan kepada publik pada periode tertentu dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut.

Mengapa sasaran inflasi yang diumumkan oleh Bank Indonesia begitu penting? Karena dengan mengumumkan sasaran inflasi dimana kemudian Bank Indonesia secara konsisten dapat mencapainya, akan berakibat pada meningkatnya kredibilitas kebijakan moneter sehingga pada gilirannya ekspektasi inflasi masyarakat akan sesuai dengan sasaran yang ditetapkan BI. Ekspektasi inflasi berguna bagi para Pengusaha dan investor dalam memprediksi biaya modal, risiko, maupun imbal hasil yang diharapkan pada suatu investasi.
sumber : www.bi.go.id
Bagi yang belum tahu apa itu inflasi, penulis beri sedikit gambaran. 15 tahun ketika penulis masih menginjak bangku sekolah dasar, dari 500 perak uang saku, penulis bisa mendapatkan 10 biji permen Kopiko. Karena dulu harga satu biji kopiko cuman 50 perak. Tapi sekarang, boro-boro dapat 10 biji permen dari 500 perak, terakhir penulis dapat dari toko (karena tidak ada kembalian 500 perak) 3 biji permen kopiko. Sekarang uang koin 50 perak pun sudah tidak beredar lagi di masyarakat. Nah, kenaikan harga barang-barang secara umum itulah yang disebut Inflasi. Inflasi tidak berarti buruk. Inflasi yang terjaga menandakan terjadinya pertumbuhan ekonomi pada suatu negara. Inflasi ada karena makin banyaknya uang yang beredar di masyarakat. Mengapa makin banyak uang yang beredar? Nanti penulis bahas pada bagian kedua ya, ada kaitannya sama kredit/pinjaman yang diambil oleh masyarakat dari Bank.

Mekanisme bekerjanya perubahan BI Rate sampai mempengaruhi inflasi sering disebut sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme ini menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta sektor riil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi.

Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter
sumber : www.bi.go.id
Jadi, sudah dapat diketahui bahwa BI rate merupakan tindakan moneter yang dilakukan oleh Bank Sentral, dalam hal ini Bank Indonesia, untuk mempengaruhi banyaknya uang yang beredar di Indonesia. Melalui tindakan ini, diharapkan inflasi yang terjadi di Indonesia akan sesuai dengan proyeksi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Mengenai penjelasan mekanisme transmisi kebijakan moneter tersebut, khususnya melalui jalur suku bunga, dan apakah benar BI rate mampu mempengaruhi inflasi, akan dibahas pada artikel bagian kedua.

1 komentar :

  1. Nice info gan.
    Semoga menambah manfaat dan ilmu.

    BalasHapus