Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian kedua) | Uang Kartal

Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian kedua)

by Februari 03, 2016 0 komentar
Menyambung artikel Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian satu), pada artikel kali ini penulis akan mencoba menjelaskan mekanisme transmisi kebijakan moneter, khususnya melalui jalur suku bunga, dan apakah benar BI rate mampu mempengaruhi inflasi di Indonesia?

Kebijakan moneter yang ditransmisikan melalui jalur suku bunga dapat dijelaskan dalam dua tahap. Pertama, transmisi di sektor keuangan (moneter). Perubahan kebijakan moneter berawal dari perubahan instrumen moneter (rSBI) akan berpengaruh terhadap perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB), suku bunga deposito, dan suku bunga kredit. Proses transmisi ini memerlukan tenggat waktu (time lag) tertentu. Kedua, transmisi dari sektor keuangan ke sektor riil tergantung pada pengaruhnya terhadap konsumsi dan investasi.

Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk mendorong aktivitas ekonomi.  Penurunan suku bunga BI Rate akan menurunkan suku bunga kredit perbankan sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat.  Penurunan suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi.  Ini semua akan meningkatkan aktivitas konsumsi dan investasi sehingga aktivitas perekonomian semakin bergairah.  Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktivitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.  

Jadi, secara sederhana dapat dipahami bahwa ketika Bank Indonesia menurunkan BI rate, dimana diharapkan diikuti juga dengan penurunan suku bunga kredit dan deposito bank, menyebabkan masyarakat ataupun pelaku ekonomi (pengusaha) akan mengambil/menambah pinjaman kreditnya ataupun menarik tabungan dan depositonya untuk dikonsumsikan atau dipindahkan pada instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil yang melebihi deposito. Hal ini juga menjawab pertanyaan pada artikel bagian satu dulu terkait mengapa makin banyak uang yang beredar di masyarakat. Suplai uang utama di sebuah negara datang dari rakyatnya. Uang tercipta saat pengajuan kredit masyarakat disetujui oleh Bank. Faktanya, apakah BI rate berhasil mempengaruhi Inflasi?



Kestabilan harga direpresentasikan dengan kestabilan tingkat inflasi dari tahun ke tahun. Tabel di samping menunjukkan tingkat inflasi rata-rata di Indonesia dari tahun 2001 sampai dengan 2014. Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa selama 15 tahun terakhir Bank Indonesia hanya mampu mengendalikan laju inflasi (inflasi aktual), melalui kebijakan BI rate nya, agar mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan sebanyak 5 kali yaitu pada tahun 2002, 2004, 2007, 2010, 2012. Oleh karena, pembahasan mekanisme transmisi kebijakan moneter ini mengkhususkan pada jalur suku bunga, maka pada artikel terpisah nanti Penulis akan mencoba memberikan data dan menganalisis terkait BI rate, suku bunga kredit, dan suku bunga deposito perbankan selama beberapa tahun ke belakang serta menghubungkannya kembali dengan data pada tabel di samping.

Lalu bagaimana  hubungan antara BI rate dengan IHSG? Berlanjut ke Antara BI Rate, Inflasi, dan IHSG (bagian ketiga). Stay tuned!

0 komentar :

Posting Komentar