Eggs Haven | Uang Kartal

Eggs Haven

by April 15, 2016 0 komentar
Sumber: www.flicker.com (edited)

Luna terlihat gusar. Sambil menghela napas, ia menghempaskan bokongnya yang sintal di sejumput lahan hijau di tepi sebuah jalan raya. Cuaca siang yang super panas hari itu membuat aspal jalan seperti bergoyang-goyang. Luna Ayam, atau lebih akrab disebut Luna, adalah seekor ayam petelur yang kebetulan single. Sejak beberapa hari yang lalu, bisikan seekor laron membuat Luna menimbang-nimbang apakah worth the risk untuk memindahkan telur-telurnya ke tanah seberang, mengingat setiap Minggu pagi, telur-telur yang ia hasilkan selalu raib setengahnya. Well, sesungguhnya telur-telur Luna tidak begitu saja raib. Ariel, pemilik Luna, sudah menetapkan aturan bahwa berapapun telur yang dihasilkan Luna tiap pekan, 50%-nya jadi milik Ariel. Luna mulai merasa tidak rela, tanah seberang lebih hijau, begitu kata laron.

Kegusaran Luna berawal saat ia sedang mematuk-matuk tanah mencari cacing tanah segar untuk bahan brunch. Cacing segar dibalut dengan dedak organik merupakan salah satu menu brunch favorit Luna selain biji jagung yang diberi serpihan beras merah. Namun, sudah lebih dari tiga purnama, Ariel tak pernah memberinya jagung apalagi beras merah. Oleh sebab itu, waktu bebasnya di luar kandang benar-benar dimanfaatkannya untuk mencari makanan alternatif selain dedak yang diberikan Ariel hampir tiap hari. Hari itu dia beruntung, ketika matahari mulai memerah di ufuk barat, Luna yang hampir putus asa karena tak menemukan seekor cacing pun akhirnya melihat seekor laron yang sedang berjalan tertatih-tatih. Luna hitung sayapnya cuma ada 3, pantas ia tak bisa terbang. Saat Luna berlari mendekat dan hampir mematuk laron tersebut, si laron tiba-tiba berteriak kencang, cukup kencang untuk makhluk seukuran beras merah, “Ah beras merah, sudah lama Luna tak makan beras merah yang gurih itu,” begitu pikir Luna.

“Jangan!!! Jangan kau makan aku, aku terlalu berharga untuk hanya berakhir di perut seekor ayam kampung,” ujar si Laron lantang. Luna yang sudah mangap langsung memundurkan kepalanya bersiap mematuk laron kurang ajar itu.

“Aku akan berikan informasi yang jauh lebih berharga daripada tubuh peyotku yang hanya sekali kunyah ini, percayalah!!” seloroh laron lagi.

“Kalau begitu cepat katakan! Sudah seharian aku tak mendapatkan seekor cacing pun, aku lapar dan kau kelihatan sangat nikmat,” balas Luna.

Si Laron pun memperkenalkan diri. Nama lengkapnya Laaron Carter. Ya, dengan dua “A”. Dia mengaku kalau dulu dia sangat terkenal terutama di kalangan laron wanita remaja, Luna tidak peduli.

“Panggil aku Laaron. Sebagai balasan atas kemurahan hatimu yang tidak jadi memakanku, aku akan berikan informasi yang sangat menarik. Kulihat engkau adalah seekor ayam petelur. Berapa telur yang pemilikmu ambil setiap pekan, hah? Sepertiganya? Setengahnya?” tanya Laaron.

“Setengahnya, memang kenapa?” jawab Luna kesal.

“Hahaha, tahukah kamu wahai ayam, kalau di seberang jalan sana, seekor ayam petelur hanya perlu menyerahkan satu buah telur saja kepada pemiliknya, ditambah satu buah lagi jika engkau bertelur lebih dari sepuluh,” celoteh Laaron sedikit mengejek.

Luna berusaha tidak percaya, tapi perkataan Laaron membuatnya menelan ludah. Sudah lama ia kalut karena tak bisa memiliki telur-telur yang dihasilkannya secara utuh. Kodratnya sebagai ayam petelur mengharuskan ia membayar upeti kepada Ariel, pemiliknya. Belakangan ini telur ayam adalah komoditas yang sedang hot. Entah karena kejadian mistis apa, yang jelas science tak bisa menjelaskan mengapa saat ini telur ayam tidak akan pernah menjadi busuk. Telur yang dihasilkan oleh ayam petelur tentu tak akan menjadi anak ayam. Oleh karenanya, hampir setiap pekan Luna mem-barter telur-telurnya dengan kebutuhan sehari-hari seperti pewarna jengger, pewarna kuku, peruncing bibir atau pemutih bulu. Sebagian ia kubur di halaman belakang rumah Ariel kalau-kalau suatu hari ia butuh. Hampir tiap hari ia mengecek jumlah telur-telurnya. "Tidak terlalu banyak," pikirnya. “Ini karena begitu banyak telur yang diambil oleh Ariel,” begitu pikir Luna.

Laaron Carter lebar panjang bercerita kalau di seberang sana, selain upeti atas telur ayam yang rendah, pemilik telur juga dijamin kerahasiaan dan keamanannya sehingga pemilik asli tak akan pernah tahu kalau Luna menyimpan telur di sana. Jika Luna berminat untuk menyimpan telurnya di sana, setiap pekan sebelum Ariel datang mengambil telur-telurnya, akan ada burung-burung pelikan suruhan yang mengambil sebagian telurnya untuk ditaruh di tanah seberang. Seperti disebutkan tadi, di tanah seberang, Luna hanya perlu membayar satu buah telur sebagai upeti.

“Sisakan saja dua atau tiga buah telurmu di kandang. Jadi saat Ariel datang ke kandang untuk mengambil telurmu, dia hanya akan mengambil satu atau paling banyak dua buah saja,” ujar Laaron bermuslihat, Luna mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana aku tahu kalau telur-telurku aman di sana? Apa jaminannya?” tanya Luna.

“Haha, mudah, pelikan-pelikan yang membawa telur-telurmu untuk disimpan tadi sekalian akan memberimu sertifikat kepemilikan telur di negeri seberang. Sertifikat itu mewakili sebuah loker kayu dan kuncinya yang digunakan untuk menyimpan telur-telurmu. Kalau kamu butuh, kamu bisa menukar sertifikat tadi dengan telur-telurmu. Mereka menyebut loker-loker penyimpanan telur tadi sebagai EGGSHELL COMPANY,” ujar Laaron.

“Wow, canggih sekali cara kerja mereka ya. Baiklah, aku pikir-pikir dahulu,” tukas Luna.

“Jika kau tertarik, pagi sebelum pukul lima, cobalah kau teriakkan Dasadharma Pramuka di sisi jalan raya sana, itu kode bagi ayam-ayam petelur yang ingin bergabung, nanti pemilik telur dari tanah seberang akan mengirimkan pelikan-pelikan untuk mewawancaraimu,” kata Laaron.

“Tapi ingat, menyimpan telur di sana juga bukan tanpa biaya dan risiko. Untuk mendapatkan kunci loker di sana, kau harus mendeposit setidaknya 100 buah telur di awal, bukan jumlah yang kecil bukan?” tambah Laaron lagi.

“Selain itu, banyak pemilik ayam petelur yang mulai sadar dengan keberadaan tanah seberang sehingga mulai mengetatkan keamanan kandang. Kau harus berhati-hati, salah-salah dirimu bisa dijadikan opor Lebaran,” tutup Laaron.

Sambil menatap langit senja, Luna menatap kosong plang penanda jalan menuju tanah seberang yang bertuliskan EGGS HAVEN. Perkataan Laaron benar-benar membuatnya berpikir begitu dalam. Haruskah ia menyeberangkan telur-telurnya ke sana demi menabung sebanyak mungkin telur sehingga ia bisa membeli apa saja ia mau? Ataukah ia harus tetap menjalani hidupnya seperti biasa?

Hal yang sedang dia pertimbangkan untuk lakukan, ternyata ia ketahui belakangan disebut dengan EGGS AVOIDANCE. Sebuah praktek “menyelundupkan” telur-telur milik pribadi ke tanah seberang untuk menghindari pembayaran upeti yang terlalu tinggi kepada pemilik ayam yang sebenarnya. Dan saat ini, hal tersebut sedang menjadi topik hangat di kalangan para pemilik ayam. Mereka tidak ingin lagi kecolongan. Berbagai peraturan pengetatan dibuat, namun praktik ini nyatanya masih marak terjadi. Sambil berlalu pulang kembali ke kandang, Luna melihat headline sebuah surat kabar bekas yang bertuliskan, “Bocornya Panama Peppers: Terungkapnya ribuan nama penyelundup telur di Eggs Haven”. Wajah Luna memucat, setengah berlari ia kembali ke kandang, hari sudah petang.

0 komentar :

Posting Komentar