Menghitung Mundur Kebangkrutan Jepang, Mungkinkah? | Uang Kartal

Menghitung Mundur Kebangkrutan Jepang, Mungkinkah?

by Juni 22, 2016 0 komentar

Pada tahun 2013, utang Jepang telah menyentuh angka lebih dari 1 Quadrillion yen (itu artinya ada 15 angka "nol" di belakang angka 1, kayak gini  ¥1.000.000.000.000.000 – red) dan terus bertambah sampai sekarang. Debt-to-GDP ratio tercatat pada 2015 sebesar 248 persen [IMF]. Sebuah angka yang fantastis dan menempatkan Jepang sebagai negara dengan utang terbesar di dunia. Sebagai perbandingan, outstanding utang pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2015 adalah sebesar Rp3.089 triliun atau setara $223,2 miliar, dengan debt-to-GDP ratio sebesar 27 persen. Bila dihitung secara nominal, utang Jepang hampir 50 kali lipat utang pemerintah Indonesia. Ya, kalau dibandingkan dengan pasaran Internasional, utang Indonesia yang sering kita banggakan itu cuma sekelas kredit UKM.

Menariknya, dengan utang sebanyak itu Jepang masih kokoh menjaga kredibilitasnya sebagai negara maju dengan tingkat perekonomian yang sangat pantas untuk disombongkan. Ekonomi Jepang menduduki peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Tiongkok bila dilihat dari Gross Domestic Product (GDP) nominal dan merupakan yang terbesar keempat bila dihitung menggunakan Purchasing Power Parity (PPP), satu peringkat di bawah India. Di sisi lain, salah satu “pesaing” terdekatnya, Yunani dengan raihan angka debt-to-GDP ratio tertingginya di kisaran 178 persen, telah menjadi negara maju pertama yang mengalami kebangkrutan beberapa tahun silam dan menyisakan krisis yang menular kemana-mana. Setidaknya, sebagian besar wilayah Euro terkena imbas krisis karena default utang Yunani tersebut. Bila hal itu juga terjadi pada Jepang, sudah pasti imbasnya akan lebih besar. Lalu, kenapa Jepang masih mampu mempertahankan posisinya sebagai pemuncak klasemen utang dan terhindar dari bahaya krisis dengan jumlah utang yang jauh lebih besar?

//
Anggaran Pemerintah Jepang Tahun 2016
(
Sumber: website Ministry of Finance Japan. www.mof.go.jp)
Anggaran Pemerintah Jepang terbilang sangat besar, pada tahun 2016 ditorehkan angka senilai 96.721,8 miliar yen atau kalau dibandingkan jumlahnya sekitar 5-6 kali APBN Pemerintah Indonesia. Dari pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya sangat besar itu sebanyak 24,4 persen merupakan pengeluaran untuk membayar bunga dan utang dari tahun-tahun sebelumnya. Defisit pemerintah Jepang pada tahun 2016 mencapai lebih dari sepertiga total pengeluaran mereka, yang artinya jumlah utang baru yang diterbitkan lebih besar dari pembayaran bunga dan utang-utang mereka sebelumnya. Itulah kenapa jumlah utang mereka terus membengkak dari tahun ke tahun.

Namun, tidak seperti Yunani, tidak (atau belum) ada tanda-tanda krisis fiskal bakal terjadi di Jepang dan pasar tampaknya telah mengkonfirmasi hal itu. Salah satu hal kasat mata yang dilihat pasar adalah tingkat bunga pada obligasi 10 tahun pemerintah Jepang yang terus turun mendekati nol persen di penghujung tahun 2015. Menurut beberapa perhitungan standar, pasar memprediksi Jepang belum akan mengalami default dalam waktu setidaknya 250 tahun ke depan. Bahkan, saat ini tingkat bunga obligasi 10 tahun Jepang berada pada nilai mendekati minus 2% per Juni 2016. Iya, minus, artinya meski investor harus merugi dalam investasinya mereka masih mau "dikibuli" untuk membeli obligasi tersebut karena kepercayaan mereka akan penguatan Yen masih sangat tinggi.

Miskalkulasi?
Pemerintah Jepang memang memiliki banyak utang, tapi sebenarnya tidak sebanyak yang sebagian besar orang pikirkan. Banyak utang yang dikelola pemerintah sebenarnya merupakan utang oleh salah satu cabang dari pemerintah yang lain. Menurut data IMF, utang bersih (net government debt) yang dimiliki oleh publik Jepang hanya berkisar 128 persen dari GDP, atau tak lebih dari 60 persen total utang yang biasa dikutip, yang merupakan nilai gross government debt. Net government debt sendiri merupakan nilai utang pemerintah tanpa memperhitungkan intragovernmental debt (misalnya: trust funds, revolving funds, dan special funds). Meskipun tentang mana yang lebih baik sebagai pengukuran, net atau gross, masing-masing memiliki argumen yang bisa jadi sama-sama valid.

Namun, tentu saja dengan memakai net government debt pun nilai utang Jepang masih tergolong sangat tinggi. Meski bukan lagi sebagai pemuncak klasemen, tetapi Jepang masih berada di urutan kedua di bawah Yunani berdasarkan angka net government debt-to-GDP ratio. Sekitar 15,6 persen dari penerimaan pajak Jepang dihabiskan hanya untuk membayar bunga utang ini setiap tahun. Lalu, trik apa yang digunakan Jepang untuk mengelola utangnya?

Kuncinya adalah surplus transaksi berjalan. Hal ini digunakan oleh sektor swasta untuk membeli obligasi pemerintah. Jepang tidak bergantung pada pendanaan eksternal atas utang sektor publiknya. Sektor swasta Jepang (baik rumah tangga dan perusahaan) memiliki intensi yang kuat untuk membeli obligasi pemerintah. Hal ini dapat terjadi karena tabungan domestik yang relatif tinggi. Orang dan perusahaan memiliki uang lebih untuk membeli obligasi dan meminjamkan uang untuk pemerintah. Di sebuah negara dengan tingkat tabungan yang sangat rendah, akan ada lebih sedikit orang yang bersedia atau mampu membeli utang pemerintah.

Sejalan dengan utang-utang tersebut Jepang memiliki aset yang nilainya cukup besar, sehingga bisa dikatakan efektivitas alokasi pembiayaan Jepang sudah sangat baik. Sederhananya, Jepang berutang banyak, tetapi memiliki banyak aset juga. Aset-aset tersebutlah yang menopang sektor swasta sehingga terjadi mutualisme antar sektor. Pemerintah menyediakan lahan yang sehat untuk swasta, swasta mampu berkembang sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan menjadi sumber pendanaan sektor publik Jepang sekaligus bentuk investasi.

Pemegang Surat Utang Jepang per Desember 2015
(Sumber: website Ministry of Finance Japan. www.mof.go.jp)
Sejumlah besar dari utang sektor publik Jepang yang terdiri dari Japanese Government Bonds (JGB) dan Treasury Discount Bills (T-Bill) dipegang di dalam negeri. Berdasarkan data Ministry of Finance Jepang per Desember 2015, jumlah JGB beredar berada pada angka 911,3 trilyun yen, sedangkan T-Bill berada pada angka 124,4 trilyun yen. Sejumlah 30 persen lebih dari surat-surat utang tersebut dipegang oleh Bank of Japan sebagai pemegang terbesar, sebagian besar sisanya dipegang oleh bank, asuransi, dan berbagai macam trust and investment funds di Jepang. Kepemilikan sektor asing atas surat berharga pemerintah Jepang jangka menengah maupun jangka panjang hanya berkisar di angka 10 persen, selebihnya dimiliki di dalam negeri. Dengan kepemilikan yang tinggi di dalam negeri, Jepang lebih bebas dalam mengelola utangnya. Sebaliknya yang terjadi pada negara-negara pinggiran Eropa seperti Spanyol, Yunani, dan Italia, mereka mengalami defisit transaksi berjalan dan memiliki ketergantungan lebih besar pada pendanaan eksternal dari utang dalam negeri.

tl;dr Utang besar Jepang lebih banyak dipegang di dalam negeri daripada oleh asing. Jepang belum akan mengalami default.
//

Mau tak mau kita mesti sepakat bahwa kondisi fiskal Jepang masih cukup waras meski dengan utang yang begitu besar. Namun, Ada satu kekhawatiran yang dihadapi Jepang, yaitu bahwa rasio tabungan domestik diperkirakan akan terus turun karena adanya perubahan demografi. Hal tersebut diperkirakan dapat mengancam kondisi utang Jepang menjadi melambung semakin tinggi. Secara khusus, banyak utang Jepang yang dibiayai melalui simpanan warga Jepang yang disalurkan lewat pendanaan seperti dana pensiun dan asuransi jiwa. Peningkatan populasi orang berusia tua akan diterjemahkan sebagai peningkatan biaya pensiun, pengeluaran medis, dan perawatan orang-orang tua. Ini adalah masalah jangka panjang, tapi terkait dengan ekonomi. Ketika orang-orang pensiun atau menganggur bertambah banyak, sektor rumah tangga akan berhenti membuat kontribusi untuk sistem pensiun, sementara pemerintah harus tetap membayar manfaat.

Semakin menua usia penduduk, orang-orang akan mulai menarik diri dari pendanaan tersebut yang membuat Jepang semakin sulit untuk membiayai utangnya dari dalam negeri. Pada saat yang sama, tingkat simpanan dari orang usia muda di Jepang juga semakin menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa lebih sedikitnya jumlah orang muda di Jepang juga tidak akan memberikan kontribusi per orang yang lebih banyak untuk pembiayaan utang Jepang seperti di masa sebelumnya. Sebaliknya, Jepang harus berani melangkah ke strategi yang lebih luas untuk mengatasi utang besar tersebut. Hal ini mungkin merupakan proses bertahap, yang bisa jadi pada suatu titik Jepang akan mulai mengalami kesulitan membayar kembali utang itu. Namun, tentunya tantangan itu bukan hal baru, Jepang sepertinya masih akan mampu menghadapi permasalahan utangnya dengan baik dan terhindar dari ancaman krisis fiskal – atau setidaknya belum akan terjadi dalam jangka waktu dekat ini. (v0)

Referensi: 
- imf.org
- mof.go.jp

fizer0

Author

Menerjemahkan dunia yang dibangun dari paradoks, menyederhanakan ilusinya, dan melukisnya dengan kata.

0 komentar :

Posting Komentar