Secuil Taek dari Dubur Manusia-manusia SuperKaya | Uang Kartal

Secuil Taek dari Dubur Manusia-manusia SuperKaya

by Juni 12, 2016 0 komentar
ilustrasi: rich vs poor (sumber: aberriberri.com)

Secuil, ya cuma secuil. Itu adalah lembaran uang sisa gaji bulanan yang disimpan di selempitan baju di dalam lemari Ngatno, seorang buruh yang sudah bekerja 8 tahun di Perusahaan Singkong milik Charles Tumenggung. Kebun singkong milik Charles Tumenggung saat ini diperkirakan setara dengan uang senilai 60 triliun rupiah, yang menempatkannya di peringkat 6 pada daftar orang-orang yang layak dimintai sumbangan di kampungnya. Jika hartanya dibagikan ke seluruh warga kampung yang bekerja ditempatnya yang kira-kira berjumlah 100 ribu orang itu, masing-masing akan mendapatkan uang senilai 600 juta rupiah. Itu jumlah yang baru bisa dikumpulkan Ngatno (dengan gaji 3,1 juta) setelah bekerja lebih dari 16 tahun, tanpa makan dan minum! Kalau mau menyaingi Charles Tumenggung, maka Ngatno mesti bekerja 1,6 juta tahun (sampai manusia punah dan dinosaurus muncul lagi). Itu tadi baru kebun singkong yang ada di kampung, isunya Charles Tumenggung juga punya banyak kebun singkong di kampung-kampung sebelah. psst..


//

Itu adalah gambaran sekilas yang terjadi di negeri ini. Negeri superkaya yang dimiliki segelintir warga superkaya, yang taek-nya dibagi dan dinikmati oleh ratusan juta warga lainnya untuk sekadar bertahan hidup.

Asal tahu saja, PDB per kapita negara ini ada di kisaran angka lebih dari 45 juta rupiah. Artinya dalam satu keluarga beranggotakan 4 manusia, penghasilan yang dimiliki setahun bisa mencapai 180 juta, betapa membanggakannya. Padahal Menurut BPS, garis kemiskinan di Indonesia ada di kisaran angka 300-400 ribu rupiah per kapita per bulan (tergantung provinsi/kota), itu artinya satu keluarga cuma berpenghasilan sekitar 1,5 juta per bulan atau 18 juta per tahun, bandingkan dengan angka 180 juta tadi yang bisa kita anggap sebagai "rata-rata kiasan penghasilan sebuah keluarga". Jadi, untuk memperoleh rata-rata tersebut dibutuhkan sejumlah keluarga yang sama dengan penghasilan 19x penghasilan keluarga miskin tersebut. Dari situ saja sudah terlihat betapa besar ketimpangan yang terjadi. Celakanya, realita yang terjadi lebih mengerikan, cuma butuh segelintir orang superkaya untuk mengatrol pendapatan puluhan juta warga miskin di negeri ini agar mendapatkan angka PDB per kapita saat ini.

Jumlah total aset (yang diketahui) dimiliki oleh 50 orang terkaya di negeri ini menurut majalah Forbes adalah senilai $92 miliar (sekitar 1.200 triliun rupiah) pada tahun 2015. Nilai ini setara dengan 10 persen PDB Nominal Indonesia pada tahun 2015. Padahal jika kita hitung penghasilan 30 juta penduduk miskin (data BPS), dengan kita ambil angka garis kemiskinan rata-rata 350 ribu dalam setahun cuma akan menghasilkan 126 triliun rupiah, cuma 10% dari total aset yang dimiliki oleh 50 orang terkaya ini.

Menurut penelitian lain yang tak sempat saya konfirmasi, kekayaan 43 ribu orang terkaya Indonesia adalah setara dengan 25 persen PDB Indonesia. Orang-orang itu mewakili 0,02% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Selain itu, menurut Credit Suisse, di Indonesia kini terdapat 987 individu berkekayaan bersih ultra tinggi (Ultra High Net Worth/UHNW), dengan kekayaan bersih lebih daripada US$50 juta. Selain dari selain itu, sebuah survei mencengangkan dari World Bank menyebutkan bahwa total penghasilan 20% penduduk terkaya di Indonesia setidaknya setara atau bahkan bisa melebihi total penghasilan 80% penduduk lainnya.

Orang 'termiskin' di daftar 50 orang terkaya itu punya kekayaan senilai $400 juta (lebih dari 5 triliun rupiah). Saya sendiri kurang begitu paham kenapa beberapa manusia mesti menyimpan uang melebihi kebutuhannya. Rasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mewah dengan rumah seluas lapangan bola, mobil dua lusin, dan istri di mana-mana dengan uang puluhan miliar pun sudah cukup, tak perlu triliunan. Sejujurnya jumlah itu terasa sangat mubazir jika untuk sekedar disimpan. Bukannya saya benci dengan orang-orang superkaya ini, cuma agak gemes aja, duit sebanyak itu dimiliki segelintir orang yang terlalu pelit membagi hartanya. Tentunya menjadi pelit adalah hak mereka dan yang saya katakan pelit di sini pun mungkin sudah mendonorkan hartanya jauh melebihi nominal yang pernah saya donorkan ke manusia lain. Tapi kok, mbok ya o, saya ..eh maksudnya orang-orang miskin di negeri ini diciprati dikit biar nggak begitu sering ngedumel.

Lucunya, di sisi lain, saya dan sebagian dari Anda juga seringkali ikut menertawakan tuntutan demo para buruh yang berjuang untuk menaikkan gaji mereka. Sempat pula kita berpikir, ini buruh ngelunjak amat minta gaji tinggi, kita yang lulusan bla.. bla.. bla.. aja begini begitu, dst. Padahal pemikiran itu sebenernya juga sebagian kecil didorong dari kecemburuan inersial tak beralasan, atau lebih tepatnya kita bukan sedang mengkritisi tuntutan mereka tapi lebih mengkritisi gaji kita sendiri yang belum naik-naik dan sudah mau disaingi oleh mereka. Yang paling sering kelihatan gak terima, ya para sarjana yang masih ndomblong di rumah sambil meratapi perjuangannya bikin skipsi selama bertahun-tahun.

Untuk perumpamaan, kita kembali ke jagoan kampung kita, Charles Tumenggung, yang nilai kebunnya ternyata bisa meningkat senilai lebih dari 10 triliun rupiah hanya dalam setahun. Warga kampung yang bekerja di kebun singkongnya digaji rata-rata 3,5 juta sebulan. Dalam setahun total penghasilan yang dibayarkan ke 100.000 warga kampung tersebut akan senilai 4,2 triliun rupiah, sedangkan warga tadi menghasilkan 10 triliun. Ini bisa berarti bahwa hasil kerja per orang atas kebun singkong itu yang dinikmati oleh Charles Tumenggung masih jauh lebih besar daripada harga yang dibayarkan olehnya ke para pekerjanya. Sekali lagi, ini cuma perumpamaan sederhana yang bisa salah karena Charles Tumenggung tak cuma jualan singkong, bisa jadi kekayaannya berasal dari kebun-kebun lain yang dimilikinya.

//

Sesungguhnya, kesenjangan sosial yang ekstrim sudah bukan merupakan hal yang mengejutkan di negeri ini. Agar ketidaksetaraan tetap bertahan diperlukan sinergi konteks ideologi yang mendukung, sebuah ideologi yang melegitimasi ketidaksetaraan. Beberapa kebudayaan di negeri ini (ditafsirkan) mengajarkan klaim bahwa hirarki sosial itu ditakdirkan oleh Tuhan atau alam. Di sisi lain, ajaran bahwa beberapa manusia layak menjadi kaya karena bakat, kerja keras, prinsip keturunan, atau tradisi menjadi satu faktor pemicu pembiaran terhadap keadaan ini.

"Win-win solution" yang biasanya ditawarkan kepada publik adalah ini semua salah koruptor, seandainya triliunan duit negara ini tidak dirampok oleh para koruptor, mungkin saja warga Indonesia ini sudah pada makmur sejahtera, mungkin saja. Namun, nyatanya duit-duit tak tergapai itu kan tak cuma dimiliki para koruptor. Saya juga tak mau menyalahkan siapa pun. Tulisan ini bukan dibuat untuk itu, meski Anda berhak menafsirkannya begitu (bahkan Anda juga boleh menyalahkan siapa pun, kecuali saya  ndak bakal saya larang, biar orang lain yang ngelarang Anda). Saya cuma mau menyampaikan bahwa negeri ini tak miskin, tak! Meski dibalik kemegahannya, negeri ini masih menyimpan banyak manusia yang hanya bisa menikmati secuil kemakmuran dari makhluk-makhluk superkaya negeri ini  itu pun dari taek-nya. (v0)
referensi:
- BPS
- Worldbank
- Credit Suisse
- Forbes

fizer0

Author

Menerjemahkan dunia yang dibangun dari paradoks, menyederhanakan ilusinya, dan melukisnya dengan kata.

0 komentar :

Posting Komentar