1MDB | Uang Kartal

1MDB

by November 10, 2016 0 komentar
1MDB


Beberapa bulan terakhir, dunia digegerkan dengan skandal 1MDB yang diduga melibatkan Perdana Menteri Malaysia saat ini, Najib Razak. Sebenarnya, skandal 1MDB mulai terkuak pada pertengahan tahun 2015 melalui liputan yang dipublikasikan oleh Serawak Report, media yang berbasis di Inggris dan didirikan oleh adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. Pada saat itu, Serawak Report menurunkan berita terkait dugaan mengalirnya dana yang dikelola oleh 1MDB ke rekening pribadi Najib Razak. Dana yang mengalir pun tidak sedikit, sekitar 700 juta dolar AS. Tidak lama setelah berita tersebut muncul ke permukaan, publik Malaysia menjadi heboh yang juga diikuti oleh diblokirnya akses ke situs Serawak Report oleh pemerintah Malaysia serta dicopotnya Wakil Perdana Menteri dan juga Jaksa Agung Malaysia.

1MDB sendiri adalah kependekan dari 1Malaysia Development Berhad yang merupakan badan investasi milik pemerintah yang dikendalikan secara langsung oleh Perdana Menteri Malaysia melalui Menteri Keuangan. 1MDB didirikan pada tahun 2009 pada masa pemerintahan Razak dan bertujuan untuk pembangunan Malaysia yang pada akhirnya dapat berdampak positif bagi kesejahteraan warga Malaysia dimana salah satu sumber dana 1MDB merupakan pajak yang selama ini dibayar oleh warga Malaysia.

Skandal 1MDB ini kembali ke permukaan pada pertengahan tahun ini ketika Kementerian Kehakiman AS melayangkan tuntutan hukum, berdasarkan penyelidikan oleh FBI, IRS dan KARI, untuk menyita beberapa aset mewah yang diduga didapatkan melalui dana tersebut. Hal ini dadasarkan bahwa Kementerian Kehakiman AS tidak mau Amerika Serikat menjadi tempat untuk mencuci uang terlebih uang tersebut merupakan dana negara yang disumberi oleh pajak warga dan disalahgunakan oleh penyelenggara negara, dalam hal ini para pejabat pemerintahan Malaysia. Aset yang diminta untuk disita berupa lukisan Van Gogh dan Monet yang ditaksir bernilai 200 juta dolar AS, hotel L’Ermitage dan Park Lane, properti mewah di New York, California dan London dan pesawat jet. Keseluruhan aset yang diduga didapatkan dari dana 1MDB sekitar 3,5 miliar dolar AS. Salah satu yang menjadi sorotan adalah dana 1MDB diduga juga mengalir ke biaya produksi film The Wolf of Wall Street yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Lalu bagaimana dana dimaksud dapat diduga mengalir ke film yang disutradarai oleh Martin Scorsese tersebut?

Dalam konferensi pers yang diberikan oleh Jaksa Agung As, Loretta Lynch, ada empat nama yang relevan dengan skandal ini, yaitu pebisnis asal Abu Dhabi Khadem al-Qubaisi dan Mohamed Ahmed Badawy Al-Husseiny, pebisnis muda Malaysia Jho Low dan putera tiri Najib Razak, Riza Aziz. Riza Aziz adalah salah satu “chairman” dari Red Granite Pictures, rumah produksi yang memproduseri dan menggelontorkan uang sebanyak 100 juta dolar AS pada proyek film tersebut. Untuk ukuran sebuah rumah produksi yang baru berdiri pada tahun 2010 (atau 3 tahun sebelum film ini dirilis), hal ini merupakan luar biasa. Lalu bagaimana Red Granite pada akhirnya dapat membiayai film tersebut?

Red Granite sendiri didirikan oleh Riza Aziz dan Christopher McFarland, seorang pebisnis muda asal Kentucky, AS. Aziz dan McFarland dikenalkan oleh pebisinis muda asal Malaysia, Jho Low, yang namanya juga terseret skandal ini. Aziz dan Low saling mengenal satu sama lain ketika mereka berdua kuliah di Inggris. Low pun merupakan salah satu yang menggagas ide 1MDB bagi pemerintah Malaysia. Dengan kata lain, Low juga merupakan orang lingkaran dalam pemerintahan Malaysia. Nama Low juga sering malang melintang di banyak pesta kelas kakap yang tersebar di kota-kota metropolitan dunia, seperti New York, Las Vegas dan Los Angeles. Pesta-pesta tersebut dihadiri tak kurang oleh Paris Hilton dan Lindsay Lohan. Low juga kerap dikenal sebagai donatur dalam lembaga-lembaga amal yang digagas oleh para selebritas dunia, termasuk Alicia Keys dengan lembaga amalnya, Keep a Child Alive dan tidak lupa lembaga amal milik Leonardo DiCaprio, The Leonardo DiCaprio Foundation (LDF). 

Low dan Dicaprio telah mengenal satu sama lain sejak tahun 2010 dimana Low terlihat sering hadir di acara-acara penggalangan dana yang diadakan LDF. Namun, ia terlihat absen pada acara LDF pada Juli lalu yang diadakan di lokasi mewah gemerlapan, St. Tropez. Kabarnya, ia absen karena muncul namanya dalam pusaran skandal 1MDB. Proyek film The Wolf of Wall Street telah terbengkalai selama enam tahun dan merupakan proyek impian DiCaprio. Proyek tersebut terbengkalai karena tidak ada studio film Hollywood yang mau membiayai film dengan tema ekonomi dan vulgar dengan biaya mahal tersebut meskipun melibatkan nama sebesar DiCaprio dan Scorsese. Akhirnya DiCaprio dikenalkan dengan Red Granite oleh Low. Red Granite bersedia untuk membiayai film yang studio manapun enggan meliriknya.  

Pada masa produksi masih berjalan, Red Granite menghadiahi DiCaprio piala Oscar yang dimenangkan oleh aktor legendaris, Marlon Brando, pada tahun 1955 lewat film On the Waterfront. Piala Oscar tersebut didapatkan melalui “penjual” memoribilia seharga 600 ribu dolar AS. Hal ini saja sudah melanggar peraturan Academy of Motion Picutres Arts and Sciences, lembaga yang menaungi perhelatan Academy Awards atau Oscar. AMPAS menyatakan bahwa piala Oscar yang dimenangkan setelah tahun 1951 dilarang keras untuk diperjualbelikan. Namun AMPAS menolak memberikan keterangan terkait informasi piala Oscar Brando yang disinyalir saat ini dimiliki oleh DiCaprio. Lalu bagaimana Red Granite dapat terkait dengan skandal 1MDB? 

Dalam wawancara dengan New York Times, Riza Aziz mengemukakan bahwa investor paling utama bagi Red Granite adalah Mohamed Ahmed Badawy Al-Husseiny, seorang pebisnis asal Abu Dhabi. Ia menyatakan tidak ada sepeser pun uang warga Malaysia yang diinvestasikan ke Red Granite. Pada tahun 2012, Al-Husseiny adalah sosok yang mengepalai Aabar Investments PJS yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Abu Dhabi dalam hal “sovereign-wealth fund”. Sovereign-wealth fund dapat dikatakan semacam alat suatu pemerintah untuk melakukan investasi pada aset-aset yang menggunakan mata uang asing. Aabar Investments memang diketahui publik melakukan kerja sama dengan 1MDB dengan nilai 1,4 miliar dolar AS.

Namun pihak yang melakukan penyelidikan, menduga bahwa dana tersebut tidak pernah sampai ke Aabar Investments PJS melainkan Aabar Investments Ltd., perusahaan yang didirikan oleh Al-Husseiny di British Virgin Islands. Dua nama yang nyaris identikal tetapi tidak sama. Kemudian, jumlah uang sebesar 155 juta dolar AS dipercaya mengalir ke Red Granite yang sebagian dimiliki oleh Riza Aziz. Terdapat tiga kali transfer dana ke Red Granite, yaitu sebesar 60 juta dolar AS, 45 juta dolar AS dan 50 juta dolar AS. Sebesar 105 juta dolar AS tersebut ditransfer langsung dari Aabar Investments Ltd. yang berada di British Virgin Islands sedangkan 55 juta dolar AS sisanya ditransfer melalui pihak perantara. Salah satu pihak perantara tersebut adalah Telina Holdings yang dimiliki oleh Al-Hosseiny dan bosnya, Khadem Al Qubaisi. Sejumlah 50 juta dolar AS tersebut, Telina Holdings maksudkan untuk membiayai film DiCaprio melalui Red Granite. Pembiayaan ini merupakan dalam bentuk pinjaman dan telah diklaim telah dilunasi oleh pihak Red Granite. 

Dari sejumlah dana yang ditransfer oleh Aabar Investments kepada Red Granie, kabarnya juga digunakan oleh Aziz untuk membeli beberapa properti, termasuk apartemen yang menghadap ke Central Park, New York seharga 33,5 juta dolar AS dan rumah di Beverly Hills, tak jauh dari rumah DiCaprio. Pada malam tahun baru 2012, tidak lama setelah proses produksi The Wolf of Wall Street berakhir, kabarnya Aziz merayakan jelang tahun 2013 di Australia dan langsung terbang kembali ke Las Vegas menggunakan jet pribadi. Dalam pesta tersebut dikabarkan hadir beberapa nama terkenal seperti Jamie Foxx (yang kabarnya memang sering terlihat di acara-acara yang melibatkan Low dan Aziz),  Jonah Hill (lawan main DiCaprio di The Wolf of Wall Street) dan tentunya, DiCaprio sendiri. Ketika DiCaprio meraih Golden Globe Awards pada tahun 2014 untuk perannya di film tersebut pun, ia tidak lupa berterima kasih kepada Low dan Aziz dalam pidato kemenangannya. Tak lama berselang, mereka bertiga kabarnya juga menonton bersama perhelatan Piala Dunia di Brazil dan menginap di yacht milik Arab Saudi. 

Lalu bagaimana aktor sekaliber Robert DeNiro juga ikut terseret dalam skandal 1MDB tersebut? 

DeNiro adalah salah satu sosok yang mendirikan Tribeca Film Institute, institusi yang membawahi salah satu festival film bergengsi di dunia, Tribeca Film Festival. Dalam salah satu divisinya, yaitu Tribeca Teaches, institusi tersebut disinyalir pernah menerima dana dari Jynwel Foundation, yang merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan yang dimiliki oleh Jho Low, Jynwel Capital, yang juga ikut terseret dalam skandal 1MDB. DeNiro sendiri tidak menampik mengenai sumber pendanaan tersebut tetapi berkata ia tidak mengetahui dari mana sumber sebenarnya sumbangan yang diberikan Jynwel Foundation. Ia bahkan menyatakan siap mengembalikan dana tersebut apabila memang terbukti dana tersebut berasal dari dana haram 1MDB. 

DeNiro sendiri memang mengenal Jho Low dalam sebuah pesta. Melalui Jho Low pula, DeNiro diundang langsung oleh Najib Razak dan istrinya, Rosmah Mansor, untuk mengunjungi mereka di Kuala Lumpur. Salahs atu alasan yang dikemukakan oleh Mansor adalah agar DeNiro dapat mengetahui secara langsung kondisi Malaysia dan tidak salah kaprah oleh media massa. Pada saat yang bersamaan, Jho Low dikabarkan melakukan pembelian properti mewah di New York seharga 23,98 juta dolar AS melalui sebuah agen properti tempat dimana anak DeNiro, Raphael DeNiro, bekerja. Pun penjualan properti mewah ini diwakili oleh Raphael. Adapun griya tawang tersebut dialihnamakan kepada Riza Aziz pada akhir 2012. Dari sini diduga bahwa sebenarnya, properti tersebut juga dibeli dengan menggunakan uang 1MDB. 

Skandal yang melibatkan dua nama besar Hollywood tersebut, khususnya DiCaprio, merupakan hal yang ironi mengingat The Wolf of Wall Street menceritakan tentang skandal pencucian uang yang melibatkan pialang saham di Wall Street. Film tentang pencucian uang yang diduga didanai dengan dana hasil pencucian uang.


*Artikel ini disusun berdasarkan beberapa artikel yang pernah dipublikasikan oleh Wall Street Journal, The Guardian, BBC dan The Hollywood Reporter.   

Penulis:
Galih Hardewo Aditya


0 komentar :

Posting Komentar