BREXIT dan Dampaknya bagi Indonesia | Uang Kartal

BREXIT dan Dampaknya bagi Indonesia

by Desember 17, 2016 1 komentar


Tengah tahun lalu kita dikejutkan dengan kabar keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Sebenarnya, bukan hanya kita, warga Inggris dan Uni Eropa pun terkejut dengan kabar ini. Bahkan, Perdana Menteri David Cameroon pun memutuskan mundur karena gagal mengampanyekan agar Inggris tetap berada di Uni Eropa.
"Saya pikir tak tepat bagi saya untuk berusaha menjadi kapten yang menahkodai negara kita ke tujuan berikutnya, Rakyat Inggris telah membuat keputusan jelas untuk menempuh jalan lain dan oleh karenanya, saya pikir negara ini memerlukan kepemimpinan baru untuk memandunya ke arah ini" kata PM Cameron di Downing Street, London, pada Jumat (24/06).
Nah, dari sudut pandang Pemerintah Indonesia, apakah dampak dari Brexit tersebut? tulisan ini dikutip dari Nota Keuangan APBN 2017,


Tanggal 23 Juni 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi Inggris terkait keanggotaannya di Uni Eropa. Setelah dilakukan referendum yang digelar di 382 wilayah dan diikuti oleh 33 juta warga Inggris atau 72,2 persen dari pemilih terdaftar sebanyak 46,5 juta orang, hasil perhitungan akhir menunjukkan bahwa kubu exit atau keluar dari Uni Eropa (Brexit) unggul dengan persentase 51,9 persen dibandingkan remain atau tetap di dalam Uni Eropa (Bremains) sebesar 48,1 persen. Referendum serupa pernah digelar pada tahun 1975, dua tahun setelah Inggris bergabung dengan Uni Eropa, dan hasilnya memutuskan Inggris tetap di Uni Eropa.

Desakan referendum muncul ketika banyak pihak menilai bahwa keanggotaan Inggris di Uni Eropa tidak banyak memberikan manfaat, bahkan Uni Eropa dianggap membebani Inggris. Beberapa faktor lain yang menjadi pemicu referendum adalah banyaknya imigran yang datang dan menetap di Inggris sebagai dampak penerapan salah satu prinsip Uni Eropa tentang ‘Free Movement’, Inggris membayar sejumlah 350 juta poundsterling per tahun untuk biaya keanggotaan di Uni Eropa namun hanya memperoleh sedikit keuntungan dari hal tersebut, serta Uni Eropa dianggap semakin mengontrol kehidupan sehari-hari rakyat Inggris. Pada sisi lain, banyak pihak juga menilai Inggris akan rugi jika keluar dari Uni Eropa. Setidaknya Inggris diprediksi akan kehilangan pendapatan hingga USD145 miliar (setara Rp1.906 triliun) dan 1 juta pekerjaan pada tahun 2020 nanti. Inggris merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbesar setelah Jerman di Uni Eropa.

Brexit diperkirakan akan mendorong kondisi ekonomi global semakin tidak menentu. Sesaat setelah kubu exit dinyatakan unggul dalam penghitungan, mata uang Inggris mengalami penurunan hingga 11 persen terhadap dolar AS dan berada di level terendah sejak tahun 1985. Indeks bursa Inggris juga mengalami pelemahan hingga 10 persen. Pasar saham global terkoreksi negatif termasuk Indonesia. Aliran modal cukup besar masuk ke aset-aset safe havens antara lain ke komoditas emas dan mata uang Yen Jepang.

Dampak ekonomi dan politik atas keluarnya Inggris dari Uni Eropa, diperkirakan akan dirasakan oleh 27 anggota Uni Eropa lainnya. Selain itu, kerja sama perdagangan semua negara yang melibatkan Inggris harus ditinjau ulang karena sebelumnya, setiap perjanjian kerja sama perdagangan yang dibuat dengan negara Uni Eropa tidak dilakukan secara bilateral, namun melalui Uni Eropa. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, berarti semua perjanjian yang melibatkan Inggris menjadi tidak berlaku. Dampak lanjutan dari Brexit adalah munculnya harapan kepada negara-negara yang euroskeptics di seluruh Eropa. Sekretaris Jenderal Organization of Economic Cooperation and Development (OECD), Angel Gurria, memperingatkan ada risiko negara Uni Eropa lainnya akan mengikuti jejak Inggris dan menggagas referendum untuk meninggalkan Eropa. Hal ini mulai terlihat ketika partai nasionalis di Prancis menyerukan digelarnya referendum yang sama (Frexit). Belanda, Denmark, Republik Ceko dan Polandia juga berpotensi membuat referendum terkait keanggotaan mereka di Uni Eropa. Jika hal ini terjadi, maka eksistensi Uni Eropa dalam jangka panjang bisa terancam.

Dampak Brexit bagi Indonesia diperkirakan tidak terlalu besar, tapi tetap perlu diwaspadai. Transmisi dampak tersebut dapat terjadi melalui jalur pasar keuangan dan perdagangan. Indeks saham diperkirakan akan mengalami penyesuaian hingga nantinya kembali ke nilai yang dianggap wajar. Brexit akan lebih banyak berpengaruh di kawasan Eropa yang berhubungan secara langsung dengan Inggris. Besarnya pengaruh ke Uni Eropa tersebutlah yang nantinya menimbulkan second round effect. Dari sisi transmisi perdagangan, Inggris berada di urutan keempat bagi Indonesia dalam hal besaran nilai perdagangan dengan Uni Eropa. Brexit akan memberikan pengaruh pada pola perdagangan dan investasi Indonesia dengan Uni Eropa dan Inggris. Neraca perdagangan antara Indonesia-Inggris sampai Mei 2016 masih mengalami surplus sebesar USD159,74 juta, dengan nilai ekspor Indonesia ke Inggris tercatat USD364,63 juta dan impor sebesar USD204,89 juta. Nilai investasi Inggris di Indonesia sepanjang triwulan pertama tahun 2016 mencapai USD54,87 juta dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 6.927 tenaga kerja. Di sisi lain, Brexit juga berpotensi menimbulkan capital outflow dari Inggris dan Uni Eropa, yang mana dapat memberikan kesempatan positif bagi pasar uang dan foreign direct investment di Indonesia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Uraian diatas cukup menjelaskan bahwa Brexit tidak berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia. Bahkan, terdapat potensi yang menguntungkan bagi pasar uang dan investasi di Indonesia. Adakah dampak Brexit bagi kamu?

1 komentar :