Learn Anything in the First 20 Hour | Uang Kartal

Learn Anything in the First 20 Hour

by November 15, 2017 0 komentar

Seandainya ditanya siapa orang Indonesia yang jago bikin pesawat terbang? Niscaya sebagian besar masyarakat Indonesia pasti akan menjawab B.J. Habibie. Pengetahuan masyarakat didasarkan pada keahlian yang dimiliki Habibie, bahkan seperti menjadi trademark yang tersemat padanya. Jenjang keahlian Habibie dimulai pada tahun 1955 dimana Habibie memperoleh beasiswa penuh di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH). Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang karena pemikirannya tentang pentingnya penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional, yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara di Indonesia kala itu. Beberapa karya Habibie dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang antara lain yaitu pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130, Hansa Jet 320 (Pesawat Eksekutif), Airbus A-300 (untuk 300 penumpang), CN – 235, dan N-250. 

10.000 hour rule 
10.000 hour rule adalah “aturan” yang sudah tak asing. Aturan ini dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya “Outlier” yang menjelaskan bahwa dibutuhkan 10.000 jam bagi seseorang untuk menjadi ahli dalam bidangnya (mastery of field). Jika ditahunkan, kurang lebih 10 tahun lamanya dengan syarat seseorang tersebut harus mengalokasikan waktunya minimal 2,5 jam setiap harinya untuk belajar dan menambah kemampuannya secara konsisten sesuai bidang keahlian yang menjadi ketertarikannya.


Habibie, jika dihitung dari tahun 1955, sebenarnya telah mencapai keahliannya di bidang konstruksi pesawat terbang pada tahun 1965 atau saat berusia 30 tahun. Pada tahun 1965 pula, Habibie menyelesaikan pendidikan S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik). Habibie kemudian bekerja sesuai dengan keahliannya di bidang pesawat terbang di Jerman. Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie mendapatkan gelar “kedudukan terhormat”, baik secara materi maupun intelektualitas, oleh orang-orang Jerman. 

Akan tetapi, banyak kritik yang dikemukakan terhadap 10.000 hour rule. Brad Stulberg, co-author dari buku "Peak Performance: Elevate Your Game, Avoid Burnout, and Thrive with the New Science of Success" kepada Business Insider mengatakan bahwa berdasar penelitian psikologis, expertise dikembangkan berdasarkan bagaimana cara berlatih (the way you practice) bukan pada seberapa banyak waktu yang dicurahkan (the time you devote). Dari sini berkembang konsep baru yang disebut deliberate practice. Dalam deliberate practice, seseorang harus sepenuhya fokus dalam mempelajari keterampilan yang sedang dikerjakan dan meminimalkan gangguan/distraksi sebanyak mungkin, contohnya gangguan dari smartphone. Menjadi fokus sangat membutuhkan banyak energi. Umumnya, seseorang dapat bertahan dalam level tersebut (deliberate practice) selama 60 sampai 90 menit setiap waktu, atau mungkin dua jam paling lama, sehingga istirahat sangat dibutuhkan setelahnya. 

Selain itu, 10.000 hour rule seakan menjadi barrier bagi seseorang untuk mulai mempelajari keahlian baru, khususnya bagi orang-orang yang belum menemukan apa yang menjadi bidang ketertarikannya. Jika kita mempercayai aturan ini, yaitu butuh waktu lama agar dapat merasakan hasilnya atau mencapai suatu expertise tertentu, maka akan sedikit sekali dorongan dari dalam diri untuk memulainya. Oleh karena itu, seharusnya yang menjadi prioritas utama adalah dengan cukup berlatih hingga mencapai hasil tertentu, yaitu output terukur, yang kita harapkan, tidak untuk mendapatkan status level atau pengakuan kompetitif tertentu. Mendapatkan status level tertentu merupakan output yang diinginkan oleh seorang expert. Lalu bagaimana sebaiknya kita memulai suatu keahlian baru? 

20 hour rule 
Josh Kaufman melakukan penelitian serupa dan mempraktikannya pada dirinya. Dalam bukunya, "The First 20 Hours: How to Learn Anything...Fast", Josh mengungkapkan bahwa hal terbaik dari penggunaan aturan 20 jam adalah untuk mengukur ketertarikan kita dalam mengawali langkah mempelajari keahlian baru. Apakah kita bersedia meluangkan waktu dan menjadwalkan latihan (deliberate practice) secara konsisten 40 menit setiap harinya selama sebulan? Jika tidak, berarti kita tidak tertarik pada bidang tersebut dan sebaiknya mencari bidang lain yang menarik bagi kita.


Mastering New Skill dalam 20 jam 
Terdapat tiga tips yang diberikan oleh Josh Kaufman untuk menguasai keahlian baru, yaitu: 
Pertama, putuskan apa yang bisa kamu lakukan. Josf Kaufman menyebutnya sebagai “target performance level”. Jika seseorang sudah memiliki pandangan tentang ingin menjadi seberapa bagus dia ke depannya, akan menjadi lebih mudah untuk menemukan metode latihan yang sesuai demi mencapai tujuan yang diinginkannya secepat mungkin. 
Kita bisa mengawali dari apa yang dekat dengan kita atau dengan sesuatu yang biasa kita gunakan. Tentu kita pernah dengar cerita tentang Nabi Musa ketika berbicara langsung dengan Tuhan dan mendapat mukjizat. Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk melemparkan tongkatnya yang seketika berubah menjadi ular. Atau saat dikejar pasukan Fir’aun, Tuhan perintahkan untuk mengetukkan tongkatnya ke tanah yang pada akhirnya membelah lautan. Kenapa harus menggunakan tongkat? Kenapa tidak menggunakan batu, pasir, atau mungkin sesuatu yang berharga seperti emas? Karena tongkat adalah alat yang berada terdekat dengan Musa dan selalu digunakan dalam kegiatannya. Begitu pun dengan kita, putuskan apa yang bisa kita lakukan dengan menggunakan alat atau kebiasaan yang kita lakukan, seperti editing foto/video, berkebun, yang suka mainan air mungkin dengan mencoba aquascape, dll. 


Kedua, pecah keahlian yang ingin dicapai menjadi bagian-bagian kecil. Proses ini disebut “deconstruction”. Kebanyakan keahlian sebenarnya merupakan kumpulan dari beberapa keahlian kecil (subskills) yang digunakan pada satu waktu yang sama. Dengan memecah (breaking down) keahlian tersebut menjadi beberapa bagian kecil, akan menjadikannya lebih mudah untuk memulai mempelajarinya serta menghilangkan kondisi kewalahan ke depannya. Kalau saya sendiri, sebenarnya telah berkomitmen untuk menguasai satu keahlian yang menjadi ketertarikan saya, yaitu mem-valuasi fundamental perusahaan. Keahlian ini bisa di break down menjadi beberapa subskills, seperti mampu membaca dan memahami laporan keuangan, matematika sederhana, olah data menggunakan excel, bagaimana memahami proses bisnis perusahaan, memahami kondisi makroekonomi, hingga networking. 

Ketiga, awalilah latihan pada subskills yang paling penting. Dengan memfokuskan awal latihan pada subskill yang paling penting dan kritikal, seseorang akan merasakan secara dramatis peningkatan keahlian yang dicapai setelah beberapa jam latihan. Berlanjut dari poin kedua, subskills utama yang harus saya kuasai tentu saja bagaimana cara membaca laporan keuangan. Subskills ini sudah saya peroleh karena basic saya yang berasal dari akuntansi. Sehingga untuk ke depannya saya perlu mempelajari subskills lain yang sesuai hingga mencapai keahlian yang saya inginkan. Yang perlu diingat bahwa latihan di sini bukan sekedar latihan, melainkan deliberate practice. Cukup alokasikan 45 menit setiap hari, maka akan kita lihat perubahan yang ada dalam satu bulan ke depan. 



sumber: sachachua.com (gambar visual dari buku Josh Kaufman)

....

Tulisan ini dibuat sebagai dasar keyakinan bagi penulis untuk mengembangkan keahlian yang sedang dijalani oleh Penulis saat ini, khususnya terkait dengan fundamental analysis (valuation). Tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki kemauan bukan?


0 komentar :

Posting Komentar