Pemain Sepak Bola Sebagai Aset Tak Berwujud | Uang Kartal

Pemain Sepak Bola Sebagai Aset Tak Berwujud

by November 08, 2017 0 komentar
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 2001 menyatakan bahwa sepak bola adalah olahraga paling populer saat ini. Survei ini menunjukkan bahwa lebih dari 240 juta orang memainkan olahraga sepakbola di lebih dari 200 negara di hampir setiap bagian dari dunia.

Kepopuleran sepakbola ternyata membawa dampak bagi kepopuleran para pemainnya. Seorang pemain sepakbola kadang-kadang justru lebih populer dibanding seorang presiden atau perdana menteri sekalipun. Kepopuleran seorang pemain akhirnya berdampak ekonomi, karena popularitasnya bisa ikut mendorong penjualan merchandise dan penjualan pertandingan suatu klub di televisi. Hal tersebut menjadikan pemain sepakbola sebagai aset yang sangat berharga, sehingga akhirnya jual beli seorang pemain sepakbola seringkali terjadi dan melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Sebuah klub sekarang ini membeli pemain bukan hanya didasarkan semata pada kualitas permainan dari pemain tersebut, tetapi juga didasarkan pada kepopulerannya. Hal inilah yang dilakukan Manchester United ketika memboyong kembali Paul Pogba dari Juventus

 Aset Tak Berwujud menurut PSAK 19: Aset Tak Berwujud

Aset Tak Berwujud merupakan aset non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan ataupun hanya bertujuan administrasi.

Aset tidak berwujud diakui sebesar harga perolehan, kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya. Dalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya. Apabila diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan. Jika diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

Aset tidak berwujud memiliki tiga karakteristik utama, yaitu:
a. Kurang memiliki eksistensi fisik
Aset tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege yang diberikan kepada perusahaan yang menggunakannya.
b. Bukan merupakan instrumen keuangan
Aset tidak berwujud merupakan instrumen keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak (klaim) untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
c. Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi
Aset tidak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun-tahun. Investasi dalam aset ini biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodik.

Selain tiga karakteristik utama tersebut, terdapat juga beberapa karakteristik pendukung aset tidak berwujud, yaitu:
a. Aset tidak berwujud diperoleh melalui pencairan/pengembangan atau dibeli baik secara terpisah atau menjadi satu dengan aset lain;
b. Aset tidak berwujud digunakan dalam operasi perusahaan secara tidak langsung;
c. Aset tidak berwujud sangat dipengaruhi oleh aktivitas pesaing;
d. Aset tidak berwujud hanya memiliki nilai pada suatu perusahaan;
e. Aset tidak berwujud bukan ditentukan umur ekonomisnya.

Cara membedakan suatu pengeluaran tergolong aset tak berwujud (intangible asset) atau biaya yang dibebankan di periode yang sama sebenarnya tidak terlalu sulit. Ada 3 kriteria yang harus terpenuhi untuk mengakui suatu pengeluaran sebagai aset tak berwujud, yaitu: (1) keteridentifikasian, (2) pengendalian atas sumber daya; dan (3) adanya manfaat/keuntungan ekonomis di masa depan.

Jika ketiga kriteria tersebut terpenuhi, maka harus diakui sebagai aktiva tidak berwujud. Sehingga dicatat dengan:
[Debit]. Aset Tak Berwujud xxx
[Credit]. Kas/Hutang xxx
Jika ada salah satu kriteria tidak terpenuhi maka dibebankan di periode yang sama.

Catatan: PSAK 19 juga menyebutkan bahwa “jika unsur tersebut diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis, maka unsur tersebut diperlakukan sebagai bagian dari goodwill pada tanggal akuisisi”

Pemain Sepak Bola Dilihat dari Kriteria Aset Tak Berwujud
Kriteria pengakuan suatu aset tak berwujud untuk dapat diakui sebagai aset di neraca adalah sebagai berikut:
• Aset tersebut dapat diidentifikasi. Implikasinya, aset tersebut memiliki manfaat ekonomis yang dapat dijual, disewakan, atau dipertukarkan secara terpisah.
• Entitas memiliki kendali atas aset tersebut, misalnya melalui hak legal.
• Di masa mendatang, perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis dari aset tersebut.
• Harga perolehan aset tersebut dapat diukur secara handal .

Pemain sepak bola, dalam hal ini adalah kontrak pemain (player registration) memenuhi karakteristik untuk dapat diperlakukan sebagai aset tak berwujud. Penjelasan atas karakteristik pemain sepak bola sebagai aset tak berwujud adalah sebagai berikut:

• Pemain sepak bola merupakan hasil dari transaksi di masa lalu.
Pembelian pemain merupakan hasil dari transaksi atau event di masa lalu. Baik dari hasil operasi sebuah klub di musim-musim kompetisi sebelumnya, ataupun dari sumber pendanaan lain, sehingga diperoleh dana untuk membeli pemain-pemain baru untuk memperkuat tim.

• Pemain sepak bola dapat diidentifikasi.
Pemain sepak bola juga dapat diidentifikasikan dengan jelas, sehingga dapat dijual, disewakan, dan dipertukarkan secara terpisah. Hal ini dapat dilihat dari transaksi jual beli pemain dari satu klub ke klub yang lain. Begitupula dengan peminjaman pemain, dapat dikatakan sebagai sewa karena klub yang meminjam selain membayar gaji pemain juga membayar biaya peminjaman ke klub pemilik. Begitupun dengan pertukaran pemain, di mana satu pemain dari satu klub dipertukarkan dengan pemain lain dari klub lain.

• Klub memiliki kendali atas kontrak pemain
Klub sepak bola memiliki kendali atas pemain sepak bola melalui kontrak hukum yang mengikat antara klub dengan pemain sepak bola. Sehingga klub memiliki kontrol terhadap pemainnya, dan pemain tersebut berkewajiban mematuhi isi dari kontrak. Pemain sepak bola juga tidak diperbolehkan berpindah klub dari satu klub ke klub yang lain tanpa seizin klub pemilik, kecuali ia dalam status free transfer. Status free transfer terjadi ketika masa kontrak pemain telah habis dan tidak ada perpanjangan kontrak kepada klub lama. Dalam status tersebut pemain bebas pindah ke klub manapun tanpa ada transaksi antara klub lama dan klub baru.

• Klub mendapatkan manfaat ekonomis dari pemain
Tujuan suatu klub sepak bola dalam mengontrak seorang pemain adalah untuk menghasilkan/mendapatkan keuntungan ekonomis di masa depan untuk klub. Keuntungan yang diharapkan diperoleh dari pemain sepak bola adalah sesuatu yang intangible, yaitu kontribusinya (jasa) dalam pertandingan bagi kesuksesan klub. Sebuah klub yang memiliki pemain yang berkualitas dan tim yang solid diharapkan akan memperoleh kemenangan dalam pertandingan, sehingga keuntungan akan mengalir ke klub baik dari meningkatkannya pemasukan dari penjualan tiket, hak siar dari televisi, penjualan merchandise, dan meningkatkan prestise klub di mata pendukung.

• Harga perolehan pemain dapat diukur secara handal
Dengan adanya active transfer market (berlaku untuk negara-negara Eropa), maka harga perolehan seorang pemain dapat diukur melalui nilai transfernya. Dalam hal pemain diperoleh dari pengembangan sekolah sepak bola klub masing-masing, harga perolehannya dapat diukur dengan menggunakan historical cost, yaitu seluruh biaya yang terkait dengan pengembangan dan pelatihan pemain diakumulasikan sebagai biaya perolehan. Dalam prakteknya, perhitungan biaya tersebut mungkin tidak mencerminkan nilai pemain yang sesungguhnya. Untuk itu, terdapat arbitration panel, yaitu suatu badan penilai harga seorang pemain, sehingga dapat diketahui nilai wajar dari seorang pemain.

Kapitalisasi Pemain Sepak Bola

Pembahasan sebelumnya menjelaskan bahwa pemain sepak bola termasuk dalam kategori aset tak berwujud. Untuk itu, perlu kita perhatikan perlakuan akuntansi atas pemain sepak bola. Terdapat dua konsep akuntansi yang perlu diperhatikan, yaitu matching and accrual concept dan prudence concept. Aset tak berwujud secara umum dikapitalisasi dalam neraca pada nilai historisnya dan disusutkan selama masa manfaatnya, jika dapat dibeli ataupun dijual secara terpisah dari pembelian dan penjualan bisnis secara keseluruhan. Perlakuan ini muncul dari matching and accrual concept yang terkait dengan konsep realisasi. Konsep ini membedakan antara penerimaan dan pembayaran kas, dan hak untuk menerima kas atau timbulnya kewajiban untuk membayar kas. Pendapatan diakui ketika hak telah diperoleh atau kewajiban telah dilaksanakan, bukan pada saat kas diterima atau dibayarkan. Dalam konsep ini, setiap beban dilawankan dengan pendapatan yang telah direalisasikan untuk memperoleh laba. Beban ini kita kenal sebagai beban penyusutan atau amortisasi. Berdasarkan konsep ini maka pemain sepak bola dikapitalisasikan dalam neraca dan diamortisasi selama masa manfaatnya (masa kontraknya).

Prudence concept menyatakan bahwa akuntan harus selalu berhati-hati (prudent) dalam memutuskan perlakuan akuntansi dalam setiap transaksi. Oleh sebab itu, baik aset berwujud maupun tidak berwujud yang sulit diukur nilainya, tidak dikapitalisasi dalam neraca. Seperti umumnya aset tak berwujud, terdapat beberapa ketidakpastian dalam pengukuran dan penilaian pemain sepak bola. Ketidakpastian ini meliputi seberapa banyak pemain sepak bola yang benar-benar berkontribusi terhadap keuntungan ekonomis klubnya di masa depan. Misalnya, dalam waktu tersebut bagaimana seorang pemain dapat langsung menyesuaikan diri dengan tim, cidera, tidak tampil dalam peforma terbaiknya, dan berapa lama akan tinggal di klub. Berdasarkan prudence concept maka pemain sepak bola seharusnya tidak dikapitalisasi karena sulit untuk dinilai dan jasa yang diberikan untuk keuntungan ekonomis di masa depan sulit diukur.

Dua konsep di atas memiliki pandangan yang berbeda dalam hal perlakuan akuntansi bagi aset tak berwujud. Namun, industri sepak bola memiliki active transfer market yang membantu dalam menentukan nilai dari pemain sepak bola. Dengan diperolehnya nilai yang handal dari pemain sepak bola, maka perlakuan yang paling tepat adalah mengkapitalisasikan pemain sepak bola dalam neraca.

Dasar Penilaian Kapitalisasi Pemain Sepak Bola

Terdapat dua pendekatan dalam penilaian pekerjaan, yaitu cost based method dan market value based method. Kedua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan adanya active transfer market untuk pemain sepak bola, di mana pemain diperoleh melalui transfer fee yang dibayarkan kepada klub lama, maka nilai transfer yang menggambarkan nilai pemain dianggap cukup handal dan independen untuk dijadikan dasar nilai kapitalisasi.

Untuk pemain yang tidak memiliki nilai transfer, seperti pemain binaan sekolah sepak bola klub, atau pemain dengan status free transfer, makauntuk menentukan nilai pemain dapat digunakan nilai historis, yaitu biaya-biaya yang dihabiskan selama mengikuti masa pelatihan di sekolah sepak bola. Dasar penilaian lain adalah dengan mengetahui replacement cost dengan tingkat kualitas permainan yang sama. Penetapan ini dapat menimbulkan subjektifitas karena replacement cost baru dapat diketahui jika pemain benar-benar dijual. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pihak penilai independen seperti arbitration panel, sehingga setiap klub memiliki basis yang sama dalam menetapkan nilai untuk pemain yang tidak memiliki nilai transfer.

Dengan dapat ditentukannya nilai dari seorang pemain, maka pemain sepak bola dapat dikapitalisasi dan diamortisasi selama umur ekonomisnya. Umur ekonomis tersebut diukur berdasarkan masa kontrak pemain. Pemain yang mengalami perpanjangan kontrak dapat direvaluasi sesuai dengan masa kontrak yang baru.

Metode lain yang dapat digunakan untuk menetapkan nilai pemain adalan dengan merevaluasi nilai pemain setiap periode tertentu untuk melihat perubahan nilai dari masing-masing pemain. Apabila menggunakan metode ini, maka peningkatan dan penurunan nilai pemain diperlakukan seperti halnya perubahan nilai investasi. Dengan demikian maka tidak diperlukan amortisasi. Untuk mengevaluasi nilai pemain tersebur secara objektif dan rasional, maka perlu dikembangkan suatu badan arbitrasi formal bagi industri sepak bola.

Artikel ini ditulis oleh Galih Wiratama, klik @galeehwira untuk mengenal lebih tentangnya.

-----------------------------------------
Referensi:
Amir, Eli dan Gilad Livne.2002. Accounting for Human Capital When Labor Mobility is Restricted. Working Paper, Tel Aviv University.
PSAK 19 (revisi 2010): Aset Tak Berwujud

0 komentar :

Posting Komentar