Kaleidoskop: Perjalanan Trading Selama Tahun 2017 | Uang Kartal

Kaleidoskop: Perjalanan Trading Selama Tahun 2017

by Januari 02, 2018 0 komentar
Selamat tinggal 2017, tahun duka cita, suka cita, dan pembelajaran yang bermanfaat. Selamat datang 2018, tahun digantungkannya harapan dan cita-cita yang mesti kudu harus direalisasikan. Banyak hal yang terjadi selama tahun 2017, terutama gejolak psikologis dan pembelajaran berharga dari proses trading saham. Suka cita ketika mendapatkan cuan dan duka cita ketika mengalami kerugian. Terlalu sayang jika momen-momen tersebut menguap dan hilang bersama waktu. Oleh karenanya, saya mencoba meringkas serpihan-serpihan cerita dan emosi di dalamnya dari pengalaman saya saat melakukan trading saham selama tahun 2017. Tahun 2017 adalah tahun kedua saya mengenal dunia saham. Akan tetapi, faktanya pada tahun 2015 sampai dengan 2016 tidak banyak transaksi saham yang saya lakukan sehingga minim sekali pengalaman dan pelajaran yang saya peroleh. Semoga tulisan ini kelak menjadi pengingat bagi saya dan sarana pembelajaran bagi pembaca agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama seperti yang telah saya alami.

Januari – Februari 2017
Momen bangkitnya saham-saham Bakrie tentu tidak akan dilewatkan bagi para trader untuk meraup cuan cepat. Momen kebangkitan saham Bakrie diawali ketika PT. Bumi Resources berniat merestrukturisasi utang-utangnya yang bejibun banyaknya. Manajemen BUMI berniat untuk mengkonversi utang menjadi kepemilikan saham bagi krediturnya. Saham BUMI yang sudah lama mati suri di harga gocap tiba-tiba terbang dan berhasil tembus ke harga 100 (100%) dalam waktu satu bulan pada bulan Oktober 2016. Saya ingat saat itu, ikut menikmati cuan karena berspekulasi dan nekat menggunakan fasilitas margin akibat pom-pom dari grup. Meski terlambat mengikuti laju BUMI dari harga gocap, saya berhasil memperoleh cuan dari BUMI sebesar 24%. Tidak berhenti di saham BUMI saja, termotivasi oleh cuan yang lebih banyak (greedy), saya pun lompat dari satu saham bakrie ke saham bakrie yang lain, BRMS, DEWA, bahkan hingga ELTY. Cuan paling besar saya rasakan dari saham ELTY. Dalam dua bulan, pada bulan Februari 2017 melalui saham ELTY saya memperoleh untung 96%.

Maret 2017
Pada bulan Maret 2017 pamor saham-saham Bakrie mulai meredup. Saham-saham Bakrie yang mencapai puncak tertinginya mulai berguguran pada bulan Maret. Saham BUMI dari harga tertinggi 505 turun menjadi 290 (-42,5%), BRMS dari harga tertinggi 154 turun ke 88 (-42,8%), DEWA dari harga tertinggi 105 turun ke 71 (-32,4%), dan ELTY dari harga tertinggi 105 kembali mati suri ke level gocap (-52,4%). Meskipun pada bulan sebelumnya saya memperoleh keuntungan pada saham-saham ini, saya juga mengalami kerugian pada saham bakrie yang lain, yaitu UNSP. Saya membeli UNSP pada harga 80 pada pertengahan Februari, tetapi pada akhir Februari UNSP kembali ke harga 50 tanpa berani melakukan cutloss. Yang paling menjengkelkan ketika para manajemen bakrie berencana melakukan kebijakan Reverse Stock (10:1) terhadap saham ini. Untuk menghindari kerugian yang lebih dalam terhadap realisasi kebijakan ini, akhirnya secara rela hati saya melakukan cutloss pada harga 50 (-37,5%).

Berakhirnya pamor saham-saham bakrie bukan berarti mengakhiri euphoria para trader terhadap saham-saham gorengan yang lain. Banyak saham yang tidak pernah terlihat di running trade tiba-tiba saling bermunculan, seperti TMPI, LMPI, DAJK, AKKU dan BCIP. Masih didasari rasa greedy dan “dendam” akibat kerugian pada saham UNSP, saya pun masih melakukan fast trading pada saham-saham gorengan (selain B7) agar tidak ketinggalan meraup keuntungan. Akan tetapi, bukan malah keuntungan yang diperoleh, justru kerugian yang berulang-ulang yang didapat. Kerugian dari kelima saham gorengan yang saya sebutkan sebelumnya secara cepat mengikis habis keuntungan yang telah diperoleh pada bulan-bulan sebelumnya, bahkan hingga dalam posisi net loss. Berusaha menerima kekalahan, saya memutuskan untuk rehat sejenak dari aktivitas trading. Sejujurnya, semenjak kebangkitan saham Bakrie pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017 itensitas trading yang saya lakukan sangat tinggi hingga mengganggu kegiatan utama. Dari sini saya memahami bahwa fast trade tidak sesuai dengan gaya saya karena begitu menguras waktu, energi, dan emosi.


Sebulan berselang, tepatnya pertengahan bulan April 2017, seorang teman dekat menunjukkan chart saham KBLI. Dia berbagi cerita bahwa dengan menggunakan Technical Analysis, yang mana teman saya mengamati pergerakan chart KBLI telah membentuk pola flag, secara konsisten dia menambah porsi kepemilikan di saham KBLI. Pada akhirnya, setelah menunggu kurang lebih tiga bulan lamanya, dia berhasil meraup keuntungan maksimal yang diakuinya sebagai keuntungan terbesar dia selama berkecimpung dalam aktivitas saham. Saya memahami bahwa seorang investor/trader adalah seorang pembelajar dan seorang yang mampu mengelola emosinya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk belajar kembali tentang Technical Analysis. Hal pertama yang saya pelajari adalah tentang candlestick, pola-pola grafik, dan support-resistance. Pola grafik yang menjadi favorit saya adalah double bottom, flag, dan cup n handle. Ketiga pola grafik tersebut terbukti telah memberikan keuntungan bagi saya, seperti pola double bottom pada saham SDMU.

Dari pengalaman selama tahun 2017 sebenarnya saya ingin menekankan beberapa poin bagi orang-orang yang akan memulai atau baru mengenal dunia saham.
  • seperti yang ditekankan oleh para master trader atau investor kawakan, hal utama dan pertama yang mesti dikuasai oleh trader/investor adalah psikologis trading (emosi). Baru setelahnya ilmu teknis lain yang berkaitan seperti technical analysis, fundamental analysis, dan manajemen porto;
  • jangan pernah menggunakan fasilitas margin. Percayalah, hal ini akan memainkan emosi kita. Selain itu, meskipun kita memperoleh keuntungan maksimal karena menggunakan fasilitas margin, saya akhirnya menyadari bahwa tidak ada keberkahan di dalamnya;
  • lindungi modal anda. Sebaiknya tidak mengambil posisi terhadap saham-saham gorengan yang tidak jelas kondisi fundamental perusahaannya. Tetapi ketika sudah masuk ke jenis saham ini, jangan takut untuk cutloss. Lakukan cutloss sebesar risiko yang mampu anda terima atau lakukan cutloss jika sudah menyentuh level support yang telah anda tetapkan. Alangkah bijaknya jika kita mau belajar dan bisa menggunakan fasilitas auto sell/auto buy dari fitur aplikasi trading yang ada. Fitur ini akan “mendisiplinkan” anda dan bisa digunakan sebagai alat pencegah kerugian yang lebih dalam;
  • riding the wave. Saya memilih melakukan trading secara swing (tiga – enam bulan). Akan tetapi, tetap menyisakan porsi kecil dana untuk melakukan fast trading dengan mengikuti trend dan berita positif yang ada di belakangnya.



0 komentar :

Posting Komentar